Konvoi Bantuan Vatikan ke Libanon Selatan Dihentikan Israel, Hizbullah Klaim Baku Tembak dengan IDF
Ilustrasi(Dok Magnific )

KONVOI bantuan kemanusiaan yang diorganisasi oleh utusan Vatikan untuk Libanon dilaporkan dihentikan oleh militer Israel saat dalam perjalanan menuju sejumlah desa mayoritas Kristen di Libanon selatan. Konvoi tersebut sebelumnya bergerak untuk menyalurkan bantuan kepada warga yang tetap bertahan di wilayah konflik meskipun pertempuran antara Israel dan Hizbullah terus berlangsung.

“(Konvoi bantuan) dihentikan oleh militer Israel dan dipaksa untuk mengubah arah,” kata seorang anggota konvoi dilansir AFP, Sabtu (13/6).

Di saat yang sama, situasi keamanan di Libanon selatan kembali memanas. Hizbullah mengeklaim telah terlibat baku tembak dengan pasukan Israel di salah satu kota di kawasan tersebut. Kelompok itu menyebut pasukan Israel bergerak menuju Majdal Zoun, sebuah wilayah yang berjarak sekitar lima kilometer dari bagian barat perbatasan Libanon-Israel.

Menurut Hizbullah, para pejuangnya pertama kali menyerang pasukan Israel yang bergerak ke wilayah tersebut pada Kamis (11/6) malam. Hizbullah menyatakan, dengan rentetan roket dari kelompok milisi Hizbullah berulang kali, memaksa tentara Israel mundur. Kelompok itu kemudian mengeklaim kembali terlibat pertempuran pada Jumat (12/6) dengan menggunakan berbagai jenis persenjataan.

Mereka mengatakan telah melakukan baku tembak dengan pasukan Israel yang maju ke wilayah tersebut, dengan menggunakan senjata ringan dan menengah serta roket. Selain itu, Hizbullah juga mengaku melancarkan sejumlah serangan lain terhadap posisi pasukan Israel di Libanon selatan.

Sementara itu, militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga di tiga desa yang berada di wilayah selatan Libanon. Namun demikian, Kantor Berita Nasional Libanon (NNA) melaporkan bahwa serangan udara dan artileri Israel juga terjadi di sejumlah wilayah lain yang tidak termasuk dalam area peringatan evakuasi.

NNA turut melaporkan adanya ledakan besar serta serangan artileri di sekitar perbukitan Ali Taher yang menghadap Kota Nabatieh di Libanon selatan. Konflik di Libanon semakin meluas sejak 2 Maret, ketika Hizbullah meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel sebagai respons atas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Sejak saat itu, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran yang disertai invasi darat ke Libanon selatan. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 3.700 orang serta membuat sebagian wilayah selatan Libanon berada di bawah pendudukan Israel.

Kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan pada April lalu juga disebut tidak pernah berjalan efektif. Bentrokan antara Israel dan Hizbullah terus berlanjut meskipun pekan lalu diumumkan kesepakatan gencatan senjata bersyarat setelah perundingan Libanon-Israel di Washington.

Hizbullah menolak kesepakatan tersebut karena hanya mewajibkan kelompok itu menghentikan serangan, tanpa mencantumkan kewajiban bagi Israel untuk menghentikan operasi militernya atau menarik pasukan dari wilayah Libanon. Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa situasi di Libanon harus menjadi bagian dari setiap kesepakatan yang bertujuan mengakhiri konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *