Biaya Logistik Naik, Harga Kebutuhan Pokok di Batam Terancam Ikut Terdorong
Angkutan logistik melintas di jalan kota Batam. Penaikan BBM dikhawatirkan akan meningkatkan biaya logistik.(MI/Hendri Kremer)

PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi di Batam dikhawatirkan memicu peningkatan biaya logistik yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat.

Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, mengatakan sebagian besar kebutuhan pokok di Batam masih dipasok dari luar daerah sehingga biaya distribusi menjadi faktor penting dalam pembentukan harga di tingkat konsumen.

“Yang kami khawatirkan adalah kenaikan harga BBM non subsidi dapat memicu inflasi. Harga kebutuhan pokok bisa ikut naik karena sebagian besar barang kebutuhan masyarakat Batam didatangkan dari berbagai daerah dan memerlukan biaya transportasi,” kata Rafki, Sabtu (13/6).

Kekhawatiran tersebut muncul setelah Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga Pertamax RON 92 di wilayah Free Trade Zone (FTZ) Batam dari Rp11.750 per liter menjadi Rp15.500 per liter. Harga baru tersebut mulai berlaku pada 10 Juni 2026.

TEKAN SEKTOR TRANSPORTASI

Menurut Rafki, kenaikan harga Pertamax diperkirakan tidak terlalu memengaruhi biaya produksi pelaku usaha, namun akan memberikan tekanan pada sektor transportasi dan distribusi barang yang bergantung pada BBM non subsidi.

“Untuk biaya produksi mungkin tidak terlalu berpengaruh. Namun, untuk biaya transportasi dan logistik tentu ada tambahan beban,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelaku usaha sebelumnya juga telah menghadapi kenaikan biaya logistik akibat penyesuaian harga solar non subsidi. Kondisi tersebut meningkatkan biaya pengiriman barang, termasuk distribusi kontainer dari Batam ke berbagai daerah di Indonesia maupun ke luar negeri.

Apabila biaya logistik terus meningkat, lanjut Rafki, pelaku usaha berpotensi menyesuaikan harga barang dan jasa sehingga beban tambahan akan dirasakan langsung oleh masyarakat sebagai konsumen.

“Ketika inflasi naik, beban pekerja juga meningkat. Kami khawatir upah yang diterima menjadi tidak cukup apabila harga-harga kebutuhan pokok ikut naik,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Apindo Batam meminta pemerintah bersama pihak terkait menjaga kelancaran distribusi kebutuhan pokok ke Batam. Menurut Rafki, gangguan pasokan dapat menyebabkan kenaikan harga yang lebih tinggi dibandingkan dampak kenaikan biaya transportasi itu sendiri.

PASOKAN TETAP TERJAGA

Selain itu, Apindo juga meminta pasokan BBM jenis Pertalite tetap terjaga. Rafki memperkirakan selisih harga yang semakin lebar antara Pertamax dan Pertalite akan mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan BBM bersubsidi.

“Kami berharap pasokan Pertalite dijaga supaya tidak terjadi kelangkaan. Kemungkinan akan ada perpindahan pengguna dari Pertamax ke Pertalite akibat perbedaan harga yang cukup tinggi,” tambahnya.

Meski mengkhawatirkan dampaknya terhadap inflasi dan daya beli masyarakat, Rafki menilai kenaikan harga BBM non subsidi belum memberikan pengaruh langsung terhadap iklim investasi di Batam. Menurutnya, penyesuaian harga energi juga terjadi di berbagai negara sehingga belum menjadi faktor utama dalam pertimbangan investor untuk menanamkan modalnya di kawasan tersebut. (E-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *