Awal Buruk Kasus Wasit Omar Artan\
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

PESTA sepak bola dunia sudah dimulai. Ingar-bingar acara pembukaan di Stadion Azteca, atau sekarang disebut Stadion Mexico City, begitu luar biasa. Meksiko memang merupakan negara sepak bola dan untuk ketiga kalinya menjadi tuan rumah setelah Piala Dunia 1970 dan Piala Dunia 1986.

Meksiko menjadi negara pertama yang mendapatkan kepercayaan sampai tiga kali menjadi tuan rumah Piala Dunia. Hanya saja, kali ini mereka berbagi dengan tetangga di utara, yaitu Amerika Serikat dan Kanada.

Para pecinta sepak bola sangat menikmati Meksiko karena suasana yang berbeda. Ada festival, ada kegembiraan, ada kebebasan. Di Meksiko semua merasakan adanya jiwa, roh sepak bola yang hidup.

Itu yang berbeda dengan apa yang terjadi di AS. Festival sepak bola yang seharusnya membawa kegembiraan, dilaksanakan di tengah kebijakan ‘Negeri Paman Sam’ yang antipendatang. Tiba-tiba pecinta sepak bola dihadapkan kepada aturan visa yang begitu menghambat.

Itu berubah 180 derajat jika dibandingkan dengan saat saya meliput Piala Dunia 1994. Tiga puluh dua tahun yang lalu perjalanan di Amerika Serikat begitu mudahnya. Saya bisa berpindah kota setiap saat mulai Chicago yang menjadi tempat pembukaan, kemudian ke Detroit, Dallas, Orlando, hingga Los Angeles tempat pertandingan final.

Dengan tiket pesawat yang berlaku dua bulan, saya bisa langsung datang ke bandar udara dan mendaftarkan diri kepada petugas di depan boarding gate untuk naik pesawat yang akan berangkat. Semua petugas di bandara begitu bersahabat dan nyaris tidak ada petugas keamanan yang mengawasi penumpang secara ketat.

Setelah serangan teror 2001 memang perjalanan di AS berubah total. Setiap orang yang naik pesawat menjadi sosok yang harus dicurigai. AS tidak mau lagi pesawat udara menjadi alat untuk menyerang negara mereka.

Namun, kebijakan yang diterapkan pemerintahan Donald Trump sekarang ini jauh lebih keras. Para pendatang tidak hanya dianggap sebagai ancaman untuk keamanan, tetapi juga menjadi pribadi yang dianggap ingin ‘numpang hidup’ di Amerika.

Kebijakan imigrasi yang ketat mengancam perjalanan pecinta sepak bola yang ingin menikmati festival. Di ajang Piala Dunia orang datang biasanya dengan pakaian nasional negara. Mereka menari, bernyanyi, tertawa, dan saling menyapa.

Awal yang buruk dirasakan wasit Omar Abdulkadir Artan dari Somalia. Ia merasa bangga menjadi orang Somalia pertama yang akan memimpin pertandingan Piala Dunia. Badan Sepak Bola Dunia yang memilihnya dan memasukkan daftar pengadil lapangan.

Namun, pihak Imigrasi AS menolak memberikan visa kepada Omar Artan. Alasannya, ia terindikasi terlibat dalam organisasi teroris. Tuduhan itu sudah ditolak Omar Artan.

Sayangnya FIFA tidak ikut memperjuangkan nasib Omar Artan. Presiden FIFA Gianni Infantino dianggap tidak bergigi. Padahal, ketika Piala Dunia diselenggarakan di Afrika Selatan, Jerman, Brasil, Rusia, dan Qatar, FIFA mewajibkan tuan rumah untuk menjamin visa bagi pecinta sepak bola yang akan datang ke negara mereka.

Kepada The New York Times, Omar Artan mengatakan, “Saya sangat kecewa. Padahal, saya hanya ingin meraih mimpi besar saya, menjadi wasit di Piala Dunia.” Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud menyebut, “Omar Artan merupakan inspirasi generasi muda Somalia.”

Sepertinya Omar Artan bukan akhir sebuah cerita mengenaskan. Ancaman yang sama dihadapi para wartawan peliput dan beberapa ofisial tim dari negara yang tidak dikehendaki seperti Iran. Bahkan kalaupun visa diberikan, hanya single entry, padahal Piala Dunia digelar di tiga negara yang membuat tim, wartawan, dan pecinta sepak bola harus keluar-masuk lintas negara.

Sebuah pertaruhan bagi penyelenggaraan kejuaraan dunia yang diperkirakan menghasilkan bisnis hampir US$9 miliar bagi FIFA. Kita lihat saja akhir dari ‘cerita cinta’ Piala Dunia kali ini!

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *