
SETELAH puncak ibadah haji menjalani wukuf di Padang Arafah, Mabit di Muzhalifah dan bermalam di Mina, kini jutaan jemaah mulai melepaskan penat dengan beragam pemadangan di Arab Saudi. Di antara serba-serbi yang memiliki daya tarik tersendiri adalah munculnya pasar kaget atau pasar dadakan musim haji di masjid-masjid kawasan Kota Mekah hingga pekarangan hotel tempat pemondokan jemaah haji.
Sesuai penelusuran Media Indonesia, pasar musiman haji itu tumbuh subur di lokasi masjid-masjid dan hotel tempat pemondokan jemaah haji seputaran Kota Suci Mekah. Target pedagang musiman itu terpusat keramaian jemaah haji tinggal atau ramai mondar-mandir.
Sekitar Hotel Burj Al Wahda Al Mutamayiz (di kawasan At Taysir) tempat tinggal jemaah Aceh berjarak sekitar 4,1 kilometer dari Masjidil Haram, misalnya puluhan pedagang musiman muncul rak makanan jajanan atau menggelar terpal diatas tanah untuk menjual berbagai oleh-oleh dan sovenir khas Arab Saudi.
Bermacam barang berbau Arab Saudi atau ikon Timur Tengah itu dijual dengan beragam harga. Mulai dari kualitas standar hingga mutu sederhana dan mulai harga tinggi hingga murah ada di pasar keramaian jemaah itu.
Pimpinan Kelompok Bimbingan Jemaah Haji dan Umrah (KBIHU) Ibnu Mas’ud, Provinsi Aceh, H Abdullah AR, kepada Media Indonesia, Sabtu (6/6) mengatakan, paling banyak jemaah asal Indonesia, termasuk dari Aceh paling banyak menyerbu pasar tersebut. Pasalnya orang Indonesia termasuk paling doyan menyambangi pasar kaget dan cukup gemar memboyong barang kenangan usai berhaji.
“Jika sebelum salat jemaah rawatib sering kita lihat antrean untuk mendapatkan sedekah atau hadiah makanan dan minuman secara besar besaran dari dermawan. Maka sehabis shalat langsung menjamur pasar kaget. Juga muncul secara tiba-tiba dan serentak,” kata Abi Abdullah, begitu panggilan H Abdullah AR akrab di sapa.
Menariknya, kata mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pidie itu, pasar kaget pasca-salat di setiap masjid tersebut cukup banyak di serbu jemaah. Di antara barang yang diborong atau dibeli dalam jumlah banyak oleh para jemaah asal Aceh adalah butiran tasbih, peci putih, sorban, musallah, minyak wangi, sugi, hingga berbagai jenis kurma.
Hebatnya para pedagang Arab itu ada yang bisa berbahasa Indonesia meskipun tidak sefasih WNI.
Bahkan mereka menawarkan barang dagangannya ke kepada orang Indonesia dengan bahasa Indonesia.
“Lebih menarik lagi ada yang menawarkan dengan harga rupiah dan menerima uang Indonesia,” tutur Abi Abdullah. (MR/E-4)
