Ini Pentingnya Keseimbangan Kepercayaan dan Perlindungan Anak di Dunia Digital
Ilustrasi(magnific)

MENJAGA keamanan anak di dunia maya bukan sekadar soal membatasi akses, melainkan membangun fondasi hubungan yang kuat antara orang tua dan anak. Psikolog klinis Alsi Mega Marsha Tengker, B.A., M.Sc., M.Psi., menekankan pentingnya keseimbangan antara perlindungan dan kepercayaan dalam pendampingan anak di ruang digital.

Dalam acara bertajuk “#AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia”, dikutip Sabtu (6/6), psikolog yang akrab disapa Caca ini menjelaskan bahwa kepercayaan dari orang tua adalah modal utama bagi anak untuk membangun rasa percaya diri.

Menurutnya, anak pada awalnya “meminjam” rasa percaya dari orang tua sebelum akhirnya mampu menumbuhkan kepercayaan pada diri mereka sendiri.

“Kalau kita bicara memberikan perlindungan dan kepercayaan, itu perlu diseimbangkan. Jika anak sudah percaya kepada kita, mereka akan lebih mudah menerima dan mematuhi peraturan yang kita berikan,” ujar Caca.

Keseimbangan Berdasarkan Usia

Caca, yang juga tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), mengingatkan bahwa porsi perlindungan dan kepercayaan harus bersifat dinamis atau disesuaikan dengan usia anak. Anak usia dini memerlukan pengawasan ketat karena belum mampu mengambil keputusan secara mandiri. Namun, seiring bertambahnya usia, orang tua harus mulai memberikan ruang kepercayaan yang lebih besar secara bertahap.

Ia juga menyoroti pentingnya memanfaatkan teknologi untuk membantu pengawasan tanpa harus merusak rasa percaya anak. Fitur pengawasan di platform seperti Google dan YouTube dapat menjadi alat bantu sekaligus bahan diskusi antara orang tua dan anak.

Risiko Ketidakseimbangan Perlindungan & Kepercayaan:







Kondisi Dampak pada Anak
Perlindungan tanpa Kepercayaan Menghasilkan ketakutan dan ketidakterbukaan.
Kepercayaan tanpa Perlindungan Menghasilkan kerentanan terhadap bahaya internet.
Keseimbangan Keduanya Membangun kepatuhan, keterbukaan, dan keamanan.

Membangun Kebiasaan Digital yang Sehat

Tujuan akhir dari pendampingan ini adalah kemampuan self-regulation atau regulasi diri. Caca berharap anak-anak nantinya mampu memilah sendiri konten mana yang layak mereka konsumsi di internet. Untuk mencapai tahap ini, orang tua perlu menerapkan healthy digital habits secara konsisten.

“Yang terpenting adalah konsistensi, bukan hasil yang sempurna secara instan. Kita membangun kebiasaan di rumah, misalnya durasi menonton. Tujuannya bukan sekadar membatasi waktu, tapi melatih mereka agar bisa meregulasi diri sendiri di dunia digital,” tambahnya.

Selain konsistensi, kejujuran dan keterbukaan menjadi kunci. Anak perlu memahami alasan di balik setiap aturan yang dibuat orang tua. Meski bersikap jujur kepada anak tidak selalu mudah, Caca mendorong orang tua untuk melatihnya setiap hari hingga menjadi kebiasaan yang alami dalam keluarga.

Dengan komunikasi yang jujur, anak akan merasa nyaman untuk berdiskusi jika mereka menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga atau usia mereka saat berselancar di internet. (Ant/Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *