
RUPIAH mencatatkan rekor pelemahan hari ini, Kamis (4/6) pagi, dengan menembus level psikologis Rp18.015 per dolar ASB. Berdasarkan data pasar, nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 0,27 persen, sebuah posisi yang menempatkan mata uang domestik pada tekanan terdalam dalam beberapa waktu terakhir.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah ini merupakan refleksi dari kombinasi tekanan eksternal yang masif. Menurutnya, ketidakpastian global yang meningkat menjadi faktor utama yang memicu penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk Mata Uang Rupiah.
- Meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu safe haven flow ke dolar AS.
- Rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari ekspektasi pasar.
- Indeks aktivitas sektor jasa Institute for Supply Management (ISM) AS yang menunjukkan performa ekonomi AS tetap solid.
Respon Bank Indonesia
Menyikapi kondisi pelemahan nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia (BI) memastikan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa otoritas moneter terus mencermati dinamika pasar keuangan global dan domestik secara saksama.
“BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas,” ujar Denny di Jakarta.
Langkah intervensi ini dilakukan guna memperkuat ketahanan eksternal dan memastikan volatilitas nilai tukar Rupiah tetap dalam batas yang dapat ditoleransi oleh fundamental ekonomi nasional. Selain intervensi di pasar spot dan DNDF, BI juga terus mendorong penggunaan skema transaksi mata uang lokal (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. (Ant/H-4)
