Penguatan Ekspor dan Hilirisasi Jadi Kunci Jaga Ketahanan Ekonomi Nasional
Para calon ketua Hipmi.(Hipmi)

Ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung memberikan tekanan terhadap berbagai indikator ekonomi, termasuk nilai tukar mata uang negara berkembang. Dalam kondisi tersebut, penguatan sektor ekspor dinilai menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan ketahanan ekonomi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional.

Di sisi lain, keterlibatan pelaku usaha nasional dalam aktivitas ekspor masih relatif terbatas. Padahal, Indonesia memiliki jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sangat besar dan tersebar di berbagai daerah dengan potensi produk yang beragam.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian tahun 2025, kontribusi UMKM terhadap total ekspor nasional baru mencapai sekitar 15,7 persen. Angka tersebut masih jauh di bawah potensi yang dimiliki mengingat UMKM mencakup lebih dari 99 persen pelaku usaha di Indonesia dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional.

Melihat kondisi tersebut, Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Ade Jona Prasetyo, menyatakan pentingnya mendorong peningkatan ekspor nasional melalui penguatan kapasitas pelaku usaha dalam negeri. Menurutnya, Hipmi perlu menjadi wadah kolaborasi yang mampu membantu pengusaha Indonesia meningkatkan daya saing hingga ke pasar internasional.

Jona menilai generasi muda Indonesia memiliki kemampuan untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok global. Sebagai contoh, ia menyinggung keberhasilan sistem pembayaran QRIS yang kini telah digunakan di sejumlah negara dan mencatatkan nilai transaksi yang terus meningkat.

“Ini membuktikan Indonesia mampu menjadi pioneer di global. Kita harus bangga menggunakan QRIS,” ujar Jona dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (4/6).

Menurut dia, penguatan ekspor menjadi semakin penting ketika nilai tukar rupiah menghadapi tekanan di tengah dinamika ekonomi global.

“Karena rupiah akan kuat jika ekspor kita kuat. Sehingga kita harus buktikan melalui ekspor,” katanya.

Jona meyakini peningkatan kapasitas ekspor akan membantu memperkuat fondasi ekonomi nasional sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.

Untuk mencapai tujuan tersebut, ia menilai percepatan hilirisasi perlu menjadi fokus utama. Melalui hilirisasi, berbagai komoditas dan sumber daya yang dimiliki daerah dapat diolah menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi sebelum dipasarkan.

Menurutnya, kontribusi UMKM yang mencapai sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menunjukkan bahwa sektor tersebut memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kita bukan hanya bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi menjadi pemain utama di pasar internasional,” ujarnya.

Selain hilirisasi, akses pembiayaan juga dinilai menjadi faktor penting untuk membantu UMKM meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar. Karena itu, Jona mendorong peningkatan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar pelaku usaha memiliki ruang yang lebih besar untuk mengembangkan bisnisnya.

Ia juga menilai pelaku usaha lokal perlu memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk terlibat dalam berbagai proyek investasi yang masuk ke Indonesia.

Menurutnya, tingginya realisasi investasi nasional dapat menjadi peluang untuk memperkuat kapasitas pengusaha daerah apabila mampu dikolaborasikan dengan kebutuhan industri dan investasi yang berkembang.

“Bayangkan jika investasi itu bisa kita kapitalisasi melalui pengusaha muda di daerah. Hipmi bisa menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi mulai dari daerah hingga nasional,” kata Jona.

Lebih lanjut, ia menilai banyak daerah di Indonesia memiliki potensi sumber daya yang belum dioptimalkan secara maksimal. Melalui program hilirisasi dan pengembangan industri berbasis potensi lokal, berbagai komoditas dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar global.

“Kita akan dampingi pengusaha daerah. Contohnya sederhana, mengolah ikan jadi pempek, atau mengolah rumput laut menjadi bahan baku yang dibutuhkan industri makanan, farmasi, dan sebagainya,” pungkasnya.

Menurut Jona, kombinasi antara penguatan ekspor, hilirisasi, akses pembiayaan, dan keterlibatan pelaku usaha lokal dalam investasi dapat menjadi fondasi penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di masa depan. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *