
MENTERI Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf bersama Tim Amirul Hajj ingin menjajaki peluang pemanfaatan produk pangan asal Indonesia dalam rantai pasok katering haji. Hal itu disampaikan saat Menhaj melakukan peninjauan ke dua dapur katering penyedia konsumsi bagi jemaah haji Indonesia di Madinah, Arab Saudi.
Selain mengecek kualitas layanan katering, pria yang akrab disapa Gus Irfan itu juga menilai peluang besar penggunaan bahan pangan asal Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji. Menurutnya, sejumlah komoditas yang saat ini dipasok dari negara lain sebenarnya dapat dipenuhi oleh Indonesia.
Dalam peninjauan tersebut, ia menemukan berbagai bahan pangan yang identik dengan produk Indonesia, seperti santan, ikan patin, ikan teri, hingga beragam bumbu khas Nusantara.
“Saya melihat ada santan yang kemungkinan besar bahan bakunya berasal dari Indonesia, tetapi dipasarkan melalui negara lain. Begitu juga ikan patin yang saat ini dipasok dari negara tetangga, padahal Indonesia memiliki potensi produksi yang sangat besar,” ujarnya, dikutip Kamis (4/6).
Menhaj mengungkapkan bahwa pemerintah sebelumnya telah mencoba mengirim sejumlah komoditas pangan Indonesia ke Arab Saudi guna mendukung kebutuhan konsumsi jemaah. Beberapa di antaranya adalah beras dan aneka bumbu masakan.
Namun, upaya tersebut belum dapat berjalan optimal karena terkendala situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada distribusi logistik dan meningkatnya biaya transportasi.
“Kami sudah mulai mencoba mengirim beras dan berbagai bumbu dari Indonesia. Namun karena situasi kawasan yang belum sepenuhnya kondusif, biaya transportasi menjadi tinggi sehingga tidak semua rencana pengiriman dapat terlaksana,” ucapnya.
Ia berharap kondisi kawasan segera membaik agar distribusi logistik kembali normal dan produk-produk Indonesia dapat lebih mudah memasuki pasar Arab Saudi, termasuk untuk kebutuhan katering haji.
Menurut Menhaj, peluang pelaku usaha Indonesia untuk menjadi pemasok kebutuhan konsumsi jemaah haji masih sangat terbuka. Produk seperti ikan teri, asam jawa, santan, dan ikan patin dinilai memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar Arab Saudi.
“Peluangnya sangat besar. Produk-produk yang dibutuhkan sebenarnya banyak tersedia di Indonesia. Tinggal bagaimana kita memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku agar produk tersebut bisa masuk ke Arab Saudi,” tuturnya.
Ke depan, kata dia, Kementerian Haji dan Umrah berencana mendorong penggunaan bahan baku asal Indonesia melalui berbagai bentuk kerja sama dengan perusahaan katering penyedia konsumsi jemaah. Salah satu opsi yang disiapkan adalah memasukkan penggunaan komoditas tertentu dalam kontrak layanan katering. (H-4)
