Mengapa Sendiri Lebih Baik daripada Bersama Orang yang Salah?
Ilustrasi(Magnific)

SEJAK kecil, sebagian besar dari kita tumbuh dengan pesan yang seragam, hidup akan jauh lebih baik saat kita menemukan pasangan. Mulai dari film, lagu, hingga obrolan keluarga sering kali mengondisikan menjalin hubungan adalah jalan mutlak menuju kebahagiaan. Akibatnya, orang-orang yang melajang kerap dipandang sebelah mata, seolah-olah mereka sedang tertahan di ruang tunggu kehidupan.

Namun, apakah asumsi tersebut sepenuhnya benar? Sebuah penelitian jangka panjang terbaru memberikan jawaban yang jauh lebih mendalam dan terukur.

Dua peneliti, Menelaos Apostolou dan Elyakim Kislev, melacak kehidupan sekitar 12,000 orang dewasa di Jerman selama 13 tahun. Mereka mengamati dinamika emosional para peserta saat berstatus lajang, berpacaran, maupun menikah. Hasilnya mematahkan anggapan sederhana bahwa “orang yang berpasangan pasti lebih bahagia.” Studi ini membuktikan status hubungan memang berpengaruh, tetapi kualitas hubungan jauh lebih krusial.

Dampak Nyata Memiliki Pasangan

Secara umum, penelitian mencatat orang-orang memang merasa lebih baik saat memiliki pasangan atau menikah. Mereka melaporkan emosi positif yang lebih banyak, emosi negatif yang lebih sedikit, serta tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi.

Meski demikian, lonjakan kebahagiaan tersebut rupanya tidak terlalu masif. Dalam skala kepuasan hidup 1 sampai 10, memiliki pasangan hanya menyumbang kenaikan sekitar 0,42 poin, sementara pernikahan menyumbang 0,86 poin. Angka ini menegaskan kebahagiaan sejati bersifat multifaktor, yang juga ditentukan oleh aspek kesehatan, finansial, pekerjaan, pertemanan, hingga tujuan hidup personal.

Satu-satunya pengecualian besar ada pada poin kesepian. Memiliki pasangan atau menikah terbukti ampuh memangkas rasa sepi secara drastis, bahkan bagi mereka yang berada dalam hubungan yang tidak harmonis sekalipun. Rasa sepi bekerja layaknya alarm biologis yang akan langsung mereda begitu ada kehadiran orang lain. Namun, perlu dicatat bahwa sekadar “tidak merasa sepi” sangat berbeda dengan merasa bahagia, damai, atau puas dengan hidup.

Kualitas Hubungan Jadi Kunci Utama

Pesan paling kuat dari riset ini sangat gamblang: hubungan yang sehat akan mendatangkan kebaikan, namun hubungan yang buruk justru akan merusak mental. Para peneliti membagi tingkat kepuasan hubungan peserta menjadi tiga kategori, buruk, sedang, dan baik. Pembagian ini mengubah total cara pandang kita terhadap status asmara.

“Apa yang membuat studi ini unik adalah kami mengikuti para peserta selama beberapa tahun untuk melihat bagaimana kebahagiaan mereka bergeser seiring perubahan status hubungan mereka,” ujar Profesor Elyakim Kislev dari Hebrew University of Jerusalem.

“Hasilnya jelas menunjukkan bahwa ini bukan sekadar tentang memiliki pasangan. Kualitas hubungan adalah faktor penentu bagi kesehatan emosional kita,” tambahnya.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Individual Differences ini menemukan bahwa orang-orang yang terjebak dalam hubungan berkualitas buruk atau sedang justru memiliki kondisi emosional yang lebih parah ketimbang mereka yang memilih tetap melajang. Mereka lebih rentan mengalami kesedihan, penurunan suasana hati, depresi, hingga tekanan emosional.

“Jika sebuah hubungan berkualitas buruk atau bahkan biasa-biasa saja, kepuasan hidup dan emosi positif seseorang secara signifikan lebih rendah dibandingkan jika mereka tetap melajang,” tegas Profesor Kislev.

Fakta ini otomatis mematahkan nasihat kuno yang menyebut bahwa “memiliki pasangan jauh lebih baik daripada kesepian seorang diri.” Menjadi jomlo mungkin mendatangkan rasa sepi bagi sebagian orang, tetapi status ini sekaligus menjadi pelindung alami dari stres akibat hubungan yang beracun. Pada akhirnya, pertanyaan terbaiknya bukanlah “Apakah kamu sudah punya pasangan?”, melainkan “Apakah hubungan tersebut berdampak baik untukmu?” (Earth/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *