
KEBANYAKAN orang tidak dapat mengingat peristiwa apa pun sebelum mereka menginjak usia tiga atau empat tahun. Fenomena ini dikenal dalam dunia sains sebagai infantile amnesia (amnesia bayi). Selama berabad-abad, para ilmuwan meyakini otak bayi belum cukup berkembang untuk menyimpan memori, sehingga ingatan masa kecil hilang tanpa bekas.
Namun, sebuah penelitian terbaru terhadap tikus yang dipublikasikan dalam jurnal Neuron berhasil mematahkan teori tersebut. Penelitian ini menunjukkan ingatan masa bayi yang tampak hilang dari perilaku sehari-hari sebenarnya tetap bertahan di dalam otak. Ingatan tersebut tidak pasif, melainkan membentuk cetakan tersembunyi yang memengaruhi cara individu belajar saat dewasa.
Pembuktian Memori yang Terkubur
Tikus laboratorium memiliki pola melupakan ingatan yang serupa dengan manusia. Seekor anak tikus dapat mempelajari sesuatu pada usia 3 minggu, namun ingatan itu akan tampak hilang dari perilakunya sebulan kemudian.
Dalam eksperimen ini, tim peneliti melatih tikus muda di dalam ruang khusus dengan memberikan kejutan listrik kecil di kaki mereka agar mereka belajar bahwa tempat tersebut tidak aman. Beberapa minggu kemudian, respons ketakutan (membeku) yang menandakan adanya ingatan mulai memudar. Saat diuji kembali setelah dewasa (60 hari kemudian), tikus-tikus tersebut tidak lagi menunjukkan rasa takut. Secara perilaku, ingatan masa kecil mereka tampak telah terhapus sepenuhnya.
Namun, segalanya berubah ketika para peneliti memberikan rangsangan kecil. Tikus dewasa tersebut dimasukkan kembali ke dalam ruang eksperimen asli hanya untuk kunjungan singkat tanpa kejutan listrik. Hasilnya mengejutkan, beberapa hari kemudian, tikus-tikus tersebut kembali menunjukkan respons ketakutan yang kuat di ruangan itu. Ingatan masa kecil mereka berhasil dipicu kembali oleh petunjuk lingkungan yang sama.
Peran Korteks Prefrontal Otak
Sebelumnya, bagian otak bernama hipokampus selalu dianggap sebagai penjaga gerbang memori. Namun, studi dari laboratorium Cristina M. Alberini, profesor di New York University (NYU), menemukan arah baru.
Ketika para peneliti melacak neuron yang aktif, mereka menemukan bahwa memori masa kecil tersebut justru disimpan dan dipulihkan oleh korteks prefrontal, wilayah otak di belakang dahi yang mengatur perencanaan dan penilaian. Saat peneliti menonaktifkan neuron di korteks prefrontal, memori tersebut gagal muncul kembali. Sebaliknya, menonaktifkan neuron di hipokampus tidak memberikan pengaruh yang sama.
Otak Kita Tidak Pernah Benar-Benar Lupa
Kejutan lain dari penelitian ini adalah tikus dewasa yang ingatan masa kecilnya berhasil dipicu, mampu mempelajari hal-hal baru yang berkaitan dengan lebih cepat. Tim Alberini menyebut fenomena ini sebagai memory schema atau skema memori.
Skema ini menjadi semacam cetakan yang diletakkan sejak masa bayi, yang akan digunakan kembali oleh otak ketika menghadapi situasi serupa di masa dewasa. Pola unik ini tidak ditemukan pada tikus yang baru mendapatkan pelatihan saat sudah dewasa.
Temuan ini membawa implikasi penting bagi perkembangan anak. Meskipun peristiwa di tiga tahun pertama kehidupan mustahil diingat secara sadar oleh orang dewasa, pengalaman dan lingkungan masa kecil tersebut tidak pernah terhapus. Pengalaman dini itu tetap hidup secara permanen sebagai lapisan struktur senyap di dalam otak yang membentuk kecerdasan kita di masa depan. (Earth/Z-2)
