
PRESIDEN Bolivia Rodrigo Paz memberikan peringatan keras, Rabu (27/5) bahwa negaranya kini berada di “titik kritis”. Pernyataan ini menyusul gelombang demonstrasi yang telah berlangsung hampir satu bulan penuh hingga memicu kelangkaan pangan, bahan bakar, dan obat-obatan yang menyelamatkan nyawa.
Paz, yang didukung Amerika Serikat, baru menjabat selama enam bulan di tengah krisis ekonomi yang parah. Saat ini, pemimpin berusia 58 tahun tersebut harus menghadapi kemarahan publik yang meluas akibat kebijakan ekonomi beraliran tengah-kanan yang diterapkannya. Ibu kota politik, La Paz, kini dikepung oleh para pekerja berpenghasilan rendah dan kelompok mayoritas Pribumi yang menuntut pengunduran dirinya.
“Negara ini membutuhkan ketertiban, dan sedang mencapai titik kritis,” ujar Paz dalam sebuah acara publik di La Paz, sembari memperbarui seruannya untuk berdialog.
Sebelumnya, Selasa (26/5), Kongres Bolivia telah mencabut pembatasan bagi presiden untuk mengumumkan status darurat negara. Keputusan ini membuka jalan bagi Paz untuk mengerahkan pasukan militer guna memulihkan ketertiban.
Meski sejauh ini Paz masih menekankan pentingnya dialog, ia tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan “instrumen konstitusional” guna mengakhiri blokade di La Paz, sebuah kiasan untuk deklarasi status darurat.
“Siapa pun yang ingin menghancurkan bangsa ini harus berhadapan dengan presiden ini dan seluruh kekuatan Konstitusi,” tegas Paz, Rabu. Ia juga meyakinkan pihak kepolisian dan militer bahwa mereka mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat.
Peringatan keras ini bertepatan dengan aksi demonstrasi ribuan perempuan Pribumi yang mengenakan rok berlapis tradisional. Mereka melakukan aksi jalan kaki melintasi La Paz dalam rangka Hari Ibu di Bolivia, sebagai bentuk solidaritas untuk mendukung para pekerja transportasi yang sedang melakukan aksi mogok.
Demonstrasi ini awalnya dimulai pada awal Mei dengan tuntutan serikat pekerja terkait kenaikan gaji, pasokan bahan bakar yang stabil, dan manajemen ekonomi yang lebih sehat. Namun, aksi tersebut dengan cepat meluas menjadi pemberontakan skala besar. Selama dua minggu terakhir, La Paz berubah menjadi medan pertempuran tempat polisi anti-huru-hara berulang kali bentrok dengan pengunjuk rasa.
Guna meredam kemarahan massa, Paz sempat mencoba menawarkan solusi dengan berjanji akan memotong setengah gajinya sendiri. Ia juga berjanji memberikan ruang lebih besar bagi kelompok Pribumi dan serikat pekerja dalam pembuatan kebijakan. Di sisi lain, pemerintahannya menuduh mantan presiden Evo Morales, yang kini bersembunyi dari tuduhan perdagangan anak bawah umur, sebagai dalang di balik pergolakan ini. (AFP/Z-2)
