Mengenal Hari Arafah: Sejarah, Keutamaan, dan Dalil Lengkapnya
Ilustrasi(Antara)

HARI Arafah adalah salah satu momentum paling agung dalam kalender Islam. Jatuh pada tanggal 9 Zulhijjah, hari ini bukan sekadar penanda waktu menuju Iduladha, melainkan puncak dari ibadah haji serta hari yang penuh dengan rahmat dan pengampunan Allah SWT.

Bagi umat Islam di seluruh dunia, Hari Arafah menjadi kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah, baik melalui ibadah wukuf di Tanah Suci bagi jamaah haji, maupun melalui puasa sunnah bagi kaum muslimin di penjuru dunia lainnya.

Secara historis dan linguistik, terdapat beberapa pendapat ulama mengenai asal-usul penamaan “Arafah”:

  1. Pertemuan Adam dan Hawa: Banyak riwayat menyebutkan bahwa setelah diturunkan ke bumi dan terpisah cukup lama, Nabi Adam AS dan Hawa bertemu kembali di Padang Arafah. Keduanya saling mengenali (ta’arafaa), sehingga tempat tersebut dinamakan Arafah.

  2. Pendidikan Manasik: Sebagian ulama berpendapat bahwa nama ini berasal dari peristiwa saat Malaikat Jibril mengajarkan manasik haji kepada Nabi Ibrahim AS. Ketika Jibril bertanya, “Arafta?” (Apakah engkau sudah mengetahui?), Nabi Ibrahim menjawab, “Araftu” (Aku telah mengetahui).

  3. Saling Mengenal: Ada pula yang berpendapat bahwa dinamakan Arafah karena pada hari itu, jutaan manusia dari berbagai latar belakang, bangsa, dan bahasa berkumpul di satu tempat untuk saling mengenal dan bersatu dalam penghambaan kepada Allah.


Dalil Al-Qur’an dan Keutamaannya

Hari Arafah memiliki kedudukan yang sangat tinggi hingga Allah SWT bersumpah dengannya dalam Al-Qur’an.

1. Hari Disempurnakannya Agama

Hari Arafah adalah saksi sejarah turunnya wahyu terakhir yang menyempurnakan syariat Islam.

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)

2. Hari yang Disaksikan (Al-Masyhud)

Dalam tafsir, hari yang “disaksikan” dalam sumpah Allah merujuk pada Hari Arafah.

“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj: 3)

Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus terhadap hari ini. Berikut adalah beberapa keutamaan berdasarkan hadits:

1. Penghapus Dosa Dua Tahun

Bagi umat muslim yang tidak sedang melaksanakan haji, disunnahkan untuk berpuasa. Keutamaannya sangat besar sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim No. 1162)

2. Hari Pembebasan dari Neraka

Hari Arafah adalah hari di mana Allah paling banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka.

“Tidak ada hari yang di dalamnya Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka dibandingkan hari Arafah.” (HR. Muslim No. 1348)

3. Waktu Mustajab untuk Berdoa

Rasulullah SAW bersabda bahwa doa terbaik adalah doa yang dipanjatkan di Hari Arafah:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: Laa ilaha illallah wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir.” (HR. Tirmidzi)

Kesimpulan: Amalan di Hari Arafah

Untuk meraih keberkahan di Hari Arafah, umat Islam dianjurkan untuk melakukan amalan-amalan berikut:

  • Bagi yang tidak haji: Melaksanakan Puasa Arafah (9 Zulhijjah).

  • Memperbanyak doa: Memanjatkan permohonan ampun dan hajat terbaik.

  • Memperbanyak dzikir: Terutama kalimat tauhid sebagaimana diajarkan Nabi SAW.

  • Memperbanyak sedekah dan amal shalih: Karena 10 hari pertama Zulhijjah adalah hari yang paling dicintai Allah untuk beramal saleh. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *