
LAPORAN mengejutkan dari Academy of Medical Royal Colleges di Inggris menyatakan bahwa media sosial kini memiliki tingkat ancaman yang setara dengan rokok terhadap kesehatan generasi muda. Peringatan ini muncul di tengah penutupan konsultasi pemerintah bertajuk Growing Up In The Online World pada Selasa (26/5), yang mengeksplorasi langkah-langkah drastis termasuk larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah umur.
Dalam laporan tersebut, para dokter memperingatkan ada gelombang anak-anak yang teradikalisasi akibat paparan konten yang penuh kebencian, adiktif, dan sangat meresahkan. Survei terhadap 454 dokter mengungkapkan bahwa separuh dari mereka menangani setidaknya satu anak setiap minggu yang mengalami tekanan mental atau cedera fisik yang terkait langsung dengan konten daring.
- Media sosial dianggap memiliki sifat adiktif yang serupa dengan tembakau.
- Ditemukan kasus cedera hingga kematian akibat meniru tindakan ekstrem dari konten pornografi dan kekerasan.
- Pemerintah Inggris mempertimbangkan larangan akses bagi anak di bawah 16 tahun, mengikuti jejak Australia.
Analogi Big Tobacco dan Desakan Regulasi
Mantan Menteri Kesehatan Inggris, Wes Streeting, dalam pernyataan publik pertamanya sejak mengundurkan diri dari kabinet, menegaskan bahwa perusahaan teknologi besar (Big Tech) menggunakan strategi yang sama dengan industri tembakau (Big Tobacco) untuk menghindari regulasi.
“Media sosial sangat adiktif dan buruk bagi kesehatan kita. Kita harus mengembalikan masa kecil anak-anak kita. Larangan untuk usia di bawah 16 tahun harus menjadi awal, bukan akhir,” tegas Streeting. Ia menambahkan bahwa sudah saatnya pemerintah mengambil alih kendali masa depan dari tangan para taipan teknologi.
Pertemuan Keluarga Korban dengan Perdana Menteri
Sejumlah keluarga yang kehilangan anggota keluarga akibat dampak platform daring dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Sir Keir Starmer. Mereka mendesak pemerintah untuk menepati janji dalam memberlakukan pembatasan ketat. Ellen Roome, yang putranya, Jools Sweeney, 14, meninggal dunia setelah mencoba tantangan daring, menyatakan bahwa media sosial adalah produk cacat yang harus dibatasi hingga terbukti aman.
Meskipun pemerintah mengumumkan rencana untuk memperkenalkan pembatasan usia atau fungsionalitas pada musim panas ini, tekanan dari House of Lords terus menguat agar legislasi segera disahkan sebelum akhir tahun.
Kritik terhadap Fokus Larangan Usia
Di sisi lain, koalisi organisasi anak yang dipimpin oleh 5Rights Foundation, termasuk NSPCC dan Girlguiding, memperingatkan bahwa hanya berfokus pada batas usia berisiko gagal mengatasi akar masalah. Mereka menuntut perombakan total pada model bisnis perusahaan teknologi.
Leanda Barrington-Leach, Direktur Eksekutif 5Rights Foundation, menyatakan bahwa masalah utama terletak pada sistem yang memprioritaskan keterlibatan (engagement) dan keuntungan di atas kesejahteraan anak. Koalisi ini mendesak adanya:
- Larangan iklan bertarget dan fitur desain manipulatif.
- Perlindungan keamanan standar untuk pengguna di bawah 16 tahun.
- Regulasi ketat terhadap sistem AI yang menyasar anak-anak.
- Pembentukan komisioner keamanan daring independen.
Seorang juru bicara pemerintah menyatakan bahwa lebih dari 70.000 orang berpartisipasi dalam konsultasi ini. Pemerintah berkomitmen untuk menyeimbangkan perlindungan anak dari bahaya daring melalui Online Safety Act, yang mewajibkan platform memberikan kontrol lebih besar kepada pengguna atas konten yang mereka lihat. (The Independent/I-2)
