Kepala Badan Bahasa Apresiasi Capaian Kegemaran Membaca di NTT Tertinggi Secara Nasional
Ilustrasi(MI/DESPIAN NURHIDAYAT)

KEPALA Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Hafidz Muksin, mengapresiasi capaian Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencatatkan tingkat kegemaran membaca tertinggi secara nasional. 

Dilansir dari Survei Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat 2025 oleh Perpustakaan Nasional, tingkat kegemaran membaca secara nasional mencapai rata-rata 54,80, sementara tingkat kegemaran membaca di NTT mencapai 62,05.

Menurutnya, capaian ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kegemaran membaca yang tinggi di balik angka capaian literasi yang rendah. 

“Hasil indeks kegemaran membaca Provinsi NTT menunjukkan hal menggembirakan karena di atas nasional. Ini mempertegas bahwa kegemaran membaca masyarakat Indonesia tidak rendah. Hal yang menyebabkan rendah itu karena akses terbatas untuk anak dan guru. Sehingga bisa jadi indeks kegemaran membaca di NTT tinggi ini juga belum didukung dengan ketersediaan,” ungkapnya dalam acara Peringatan Hari Buku Nasional di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa (26/5).

Adapun studi PISA (Programme for International Student Assessment) 2022 mencatatkan capaian literasi membaca Indonesia berada di peringkat 68 dunia dengan skor 359.

Hafidz mengatakan bahwa capaian ini semakin memperkuat dugaan anak-anak Indonesia memiliki keterbatasan akses literasi, sehingga langkah intervensi untuk menyediakan akses bahan bacaan diperlukan. 

“Literasi di Indonesia masih perlu gerakan bersama. Dari hasil studi, asesmen nasional, maupun TKA, belum menggembirakan hasil literasi. Sehingga upaya yang dilakukan Kemendikdasmen adalah menciptakan buku bacaan sesuai jenjang pendidikannya,” kata Hafidz. 

Pada tahun ini, Kemendikdasmen melalui Badan Bahasa sendiri akan menyalurkan masing-masing 200 eksemplar buku ke lebih dari 1.000 sekolah dasar di NTT. 

“Di 2026 provinsi NTT akan dijadikan prioritas dan akan kita berikan buku ke seribu lebih SD di mana masing-masing sekolah akan mendapatkan 200 eksemplar buku. Semoga ini dapat membantu peningkatan literasi bagi anak-anak kita,” tuturnya. 

Badan Bahasa juga menyalurkan 5.400 buku bacaan bermutu ke bunda literasi NTT dan bunda literasi NTT akan mendistribusikan ke seluruh sekolah di NTT. Selain itu, disalurkan juga hard disk eksternal secara simbolis yang berisi 1.400 judul buku bacaan bermutu format digital kepada bunda literasi NTT yang akan diperbanyak menggunakan flashdisk dan akan dibagikan ke bunda literasi kabupaten/kota.

Dalam kesempatan ini, Hafidz juga mengapresiasi kemitraan untuk peningkatan literasi di NTT yang dilakukan oleh INOVASI, kemitraan Australia-Indonesia yang membantu pemerintah NTT memastikan semua anak menguasai kecakapan dasar literasi dan numerasi serta memiliki karakter yang baik.

Saat ini, INOVASI sudah memasuki fase ketiga dengan memperkuat kompetensi dosen, guru, dan kepala sekolah melalui pelatihan terintegrasi, termasuk transisi bahasa ibu di kelas awal, khususnya di Kabupaten Sumba Barat, Nagekeo, Timor Tengah Utara, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, dan Ende.

“Ini menjadi motivasi dan inspirasi kami di Kemendikdasmen untuk menularkan praktik baik partisipasi semesta di Indonesia. Kemendikdasmen punya gerakan literasi nasional. Tapi kita perlu juga gerakan literasi sekolah, masyarakat, desa, dan keluarga sehingga semua ekosistem menjadi bergerak. Ini menunjukkan bahwa semua bergerak untuk meningkatkan literasi yang lebih baik di Indonesia,” jelas Hafidz. 

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Nusa Tenggara Timur, Henderina Laiskodat, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi momentum refleksi arah masa depan bangsa dan daerah di Indonesia.

“Berdasarkan survei tingkat kegemaran membaca dari Perpusnas, NTT mencatat capaian kegemaran membaca tertinggi secara nasional. Ini patut diapresiasi dan dibanggakan. Data ini menunjukkan, masyarakat NTT punya semangat belajar dan budaya membaca yang kuat. Survei itu juga memperhatikan bahwa tantangan ke depan yaitu untuk meningkatkan kualitas literasi. Pasalnya motivasi terhadap budaya membaca perlu diperkuat,” ujar Henderina. 

“Kegiatan literasi generasi muda ini punya arti strategis. Ini menjadi investasi peradaban. Kegiatan ini dibangun untuk menumbuhkan cara berpikir kritis agar generasi muda mampu memilih informasi secara bijaksana di tengah kemajuan teknologi yang kompleks,” pungkasnya. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *