
PERDANA Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan komitmennya untuk terus mengeskalasi operasi militer terhadap kelompok Hizbullah di Libanon. Pernyataan keras ini muncul di tengah meningkatnya jumlah korban sipil dan upaya diplomatik internasional yang sedang berlangsung untuk meredam konflik.
Dalam sebuah pernyataan video yang dilansir Al Jazeera pada Selasa (26/5), Netanyahu menyatakan bahwa Israel tidak akan menghentikan gempuran meski tekanan internasional menguat.
“Kami tidak akan mengendurkan tekanan; sebaliknya, saya katakan untuk meningkatkan tekanan lebih keras lagi,” tegasnya.
Eskalasi Serangan Udara
Instruksi Netanyahu tersebut berbarengan dengan intensitas serangan udara militer Israel yang menyasar berbagai wilayah di Libanon. Kantor Berita Nasional Libanon melaporkan bahwa pada hari Minggu saja, terdapat lebih dari 30 titik di wilayah selatan dan timur Libanon yang menjadi sasaran bom.
Dampak dari serangan tersebut sangat fatal bagi infrastruktur sipil. Badan pertahanan sipil Libanon melaporkan fasilitas regional di Nabatieh mengalami kerusakan parah hingga hancur total. Selain kerugian materiil, korban jiwa dari kalangan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, terus bertambah setiap harinya.
Data Korban dan Dampak Serangan
Berikut adalah ringkasan data terkait dampak serangan Israel di Libanon berdasarkan laporan otoritas setempat:
| Kategori Data | Detail Informasi |
|---|---|
| Total Korban Jiwa (Kumulatif) | 3.123 orang |
| Korban Serangan Terbaru (Sabtu) | 11 orang tewas (termasuk perempuan & anak-anak) |
| Korban Serangan Minggu | Sedikitnya 2 orang tewas |
| Wilayah Terdampak Parah | Libanon Selatan, Timur, dan Nabatieh |
| Jumlah Titik Serangan (Minggu) | Lebih dari 30 lokasi |
Diplomasi di Tengah Desing Peluru
Sikap keras Netanyahu ini menjadi tantangan besar bagi Amerika Serikat yang tengah berupaya mendorong kesepakatan gencatan senjata. Perwakilan Israel dan Libanon diketahui sempat bertemu di Washington untuk membahas peluang penghentian konflik, meskipun pembicaraan tersebut tidak melibatkan Hizbullah secara langsung.
Ketegangan terbaru ini dipicu oleh serangan Hizbullah ke Israel pada 2 Maret lalu. Kelompok tersebut mengklaim serangan itu merupakan aksi balasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi yang mereka sebut sebagai kerja sama antara Washington dan Tel Aviv.
Kondisi saat ini menandai runtuhnya harapan yang sempat muncul pada November 2024, ketika kedua belah pihak mencapai kesepakatan gencatan senjata setelah dua tahun konflik. Kesepakatan yang seharusnya mencakup penarikan pasukan dan pelucutan senjata itu kini tinggal kenangan, setelah pihak Libanon menuduh Israel berulang kali melanggar komitmen dengan menyerang objek sipil. (Z-1)
