Aturan Baru Penanganan Kolesterol Fokus pada Pencegahan Serangan Jantung
Ilustrasi(Magnific)

PENYAKIT jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Amerika Serikat. Karena itu, pedoman terbaru pengelolaan kolesterol tahun 2026 mendorong dokter untuk menangani kolesterol tinggi lebih awal dan lebih agresif dibandingkan sebelumnya.

Pedoman tersebut disusun oleh American College of Cardiology dan American Heart Association, lalu dibahas dalam perspektif ilmiah yang diterbitkan pada 19 Mei di Journal of the American College of Cardiology. Perspektif itu ditulis oleh peneliti dari Weill Cornell Medicine, NewYork-Presbyterian, dan Yale School of Medicine.

Pedoman baru ini menekankan pentingnya mendeteksi risiko penyakit jantung lebih dini sebelum seseorang mengalami serangan jantung atau stroke.

Fokus pada Risiko Jangka Panjang

Selama ini, keputusan pengobatan kolesterol sering kali didasarkan pada kemungkinan seseorang mengalami serangan jantung atau stroke dalam 10 tahun ke depan. Namun, pendekatan terbaru menilai kerusakan akibat kolesterol dapat menumpuk sepanjang hidup.

Artinya, orang dewasa muda dengan kadar kolesterol yang sedikit meningkat juga dapat memerlukan penanganan lebih awal, terutama jika memiliki faktor risiko tersembunyi lainnya.

“Para dokter layanan primer benar-benar merupakan tulang punggung perawatan pasien, terutama dalam hal pencegahan penyakit kardiovaskular,” kata pofesor madya kedokteran di Weill Cornell sekaligus internis di NewYork-Presbyterian/Weill Cornell Medical Center, Dr. Madeline R. Sterling.

Ia menambahkan bahwa dokter layanan primer memiliki posisi penting untuk mengingatkan pasien mengenai pola hidup sehat, seperti menjaga pola makan, rutin berolahraga, tidur cukup, dan berhenti merokok.

“Para dokter layanan primer dapat melakukan skrining pasien lebih awal, menilai risiko kardiovaskular seumur hidup, dan mempertimbangkan faktor risiko tambahan untuk meningkatkan penanganan dislipidemia,” lanjut Dr. Sterling.

Pemeriksaan Tak Lagi Hanya Kolesterol Biasa

Pedoman terbaru juga mendorong penggunaan pemeriksaan yang lebih modern untuk mendeteksi risiko penyakit jantung.

Dokter kini dianjurkan melihat faktor lain di luar tes kolesterol standar, termasuk pemeriksaan lipoprotein(a) atau Lp(a), yakni partikel kolesterol turunan genetik yang berkaitan dengan penyakit jantung.

Selain itu, penggunaan pemindaian coronary artery calcium (CAC) juga direkomendasikan untuk mendeteksi penumpukan plak tersembunyi pada pembuluh darah jantung.

Dengan pendekatan tersebut, dokter diharapkan dapat mengetahui risiko penyakit jantung lebih cepat, bahkan sebelum gejala muncul.

Secara umum, pedoman baru mendorong penanganan kadar lemak darah yang lebih agresif. Salah satunya melalui pemberian obat statin lebih awal, disertai perubahan gaya hidup sehat.

Statin merupakan obat yang umum digunakan untuk membantu menurunkan kadar kolesterol dan mengurangi risiko penyakit jantung.

Meski begitu, penerapan pedoman tersebut dinilai tidak mudah dilakukan dalam praktik sehari-hari.

Menurut Dr. Sterling, dokter layanan primer sering kali harus menangani banyak masalah kesehatan pasien dalam waktu konsultasi yang terbatas. Penjelasan mengenai risiko penyakit jangka panjang, pemeriksaan lanjutan, hingga obat pencegahan membutuhkan diskusi mendalam yang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Risiko Kesenjangan Layanan Kesehatan

Para ahli juga menyoroti kemungkinan munculnya kesenjangan layanan kesehatan apabila pedoman baru ini tidak diterapkan secara merata.

Beberapa pemeriksaan lanjutan dan obat penurun kolesterol terbaru dinilai masih mahal dan belum tentu ditanggung asuransi kesehatan atau tersedia di semua wilayah.

Dr. Erica S. Spatz, profesor madya kardiologi dan epidemiologi di Yale School of Medicine yang ikut menulis perspektif tersebut, menilai keberhasilan penerapan pedoman ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak.

Dr. Sterling dan Dr. Spatz mengatakan penerapan pedoman kemungkinan membutuhkan cakupan asuransi yang lebih baik, pengembangan sistem rekam medis elektronik, edukasi pasien, serta kolaborasi yang lebih kuat antara dokter layanan primer dan dokter spesialis.

Pedoman ini juga mendorong pendekatan layanan kesehatan berbasis tim, di mana perawat, apoteker, dan dokter spesialis bekerja sama membantu pasien mengelola pengobatan dan mencapai target kadar kolesterol yang dianjurkan.

“Pada akhirnya, pendekatan multi-aspek akan diperlukan agar rekomendasi pedoman dapat diterjemahkan secara konsisten ke dalam praktik,” ujar Dr. Sterling.

Dengan pendekatan baru tersebut, para ahli berharap pencegahan penyakit jantung dapat dilakukan lebih awal sehingga risiko serangan jantung dan stroke di masa depan bisa ditekan.

(Sumber: Presbyterian/P-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *