
LAGI-LAGI hantavirus dan ebola mengejutkan dunia. Kedua re-emerging zoonotic diseases itu mencuat kembali hampir bersamaan. Persoalan apa yang memantik kebangkitannya? Mengapa pula kemajuan pesat bidang biologi modern belum mampu mencegahnya?
DAYA TULAR DAN FATALITAS EBOLA
Berbicara tentang daya tular dan fatalitas ebola, sungguh mencemaskan. Dalam waktu relatif singkat, per tanggal 22 Mei 2026, telah memakan korban jiwa sedikitnya 176 orang. Case fatality rate-nya (CFR) bervariasi antara 25% dan 90%, atau rata-rata 50% (Centers for Disease Control and Prevention/CDC).
Republik Demokratik Kongo (RDK) kembali menjadi sorotan dunia. Pasalnya, negara itu merupakan episentrum 17 kali wabah ebola sejak tahun 1976. Terakhir kali, terjadi setahun yang lalu. Tragisnya, sekarang ini sangat berbeda. Selain banyaknya korban jiwa, etiologinya adalah galur virus ebola Bundibugyo yang sangat langka. Biasanya, galur Zaire yang jadi ‘langganannya’. Hingga kini belum tersedia pengobatan antivirus maupun vaksin spesifik untuk ebola galur Bundibugyo. Padahal vaksinasi merupakan modalitas preventif yang sudah teruji paling efektif dan efisien.
Contoh peran paling fenomenal ialah vaksinasi cacar (smallpox). Pandemi cacar bertanggung jawab atas kematian 300 juta hingga 500 juta penduduk dunia. Tragedi kemanusiaan itu berlangsung sepanjang abad ke-19 hingga 20. Baru pada tahun 1979, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan eliminasi cacar global. Ironisnya, diperlukan waktu hingga 200 tahun untuk melalukan eradikasi. Sejarah mencatat dengan tinta emas peristiwa penting itu.
Contoh berikutnya ialah mitigasi pandemi covid-19. Pendayagunaan beragam platform vaksin berperan krusial membawa pandemi menuju fase endemi. Meski secara sporadis muncul varian mutan SARS-CoV-2, efektivitas vaksin tetap bisa diandalkan. Dampak morbiditas dan mortalitas covid-19 pun bisa ditekan maksimal.
Masih banyak jenis vaksin lain yang aman dan efektif untuk pencegahan berbagai penyakit menular. Mayoritas telah diimplementasikan secara rutin sejak 1956 melalui Program Imunisasi Nasional.
TANTANGAN RISET VAKSIN EBOLA
Vaksinasi terhadap beragam penyakit menular memiliki konsep dasar yang serupa. Secara artifisial bertujuan ‘melatih’ sistem imun agar kompeten mengenali patogen penyebab infeksi. Ketika respons imun protektif pascavaksinasi sudah terbentuk, tubuh telah mampu mencegah dampak buruk penyakit. Meski dasar pemikirannya tampak ‘sederhana’, mengembangkan vaksin merupakan persoalan yang kompleks. Penuh tantangan!
Ibarat suatu keluarga yang memiliki beberapa anak. Ada yang ‘nakal’. Tapi ada pula yang penyabar dan baik hati. Ebola termasuk dalam famili Filoviridae. ‘Keturunannya’ ada enam. Empat di antaranya ‘nakal’ (patogen). Artinya mampu menginvasi manusia dan mengakibatkan penyakit. Dua sisanya tidak menimbulkan infeksi. Zaire ebolavirus (EBOV) tergolong paling patogen dan tersering memantik wabah. Tiga patogen lainnya terdiri dari Sudan ebolavirus (SUDV), Bundibugyo ebolavirus (BDBV), dan Tai forest ebolavirus. Meski dalam lingkup satu keluarga, setiap galur virus patogen memiliki perbedaan mencolok. Masing-masing mempunyai sifat spesifik. Tentu ada konsekuensinya.
Kini vaksin terhadap EBOV sudah tersedia. Diberi kode rVSV-ZEBOV-GP. Tapi karena sifatnya yang spesifik, khusus dirancang hanya bagi pencegahan EBOV. Antibodi yang diinduksinya tidak mampu memberikan proteksi silang terhadap BDBV. Karena itulah, WHO ataupun otoritas kesehatan RDK tidak memiliki ‘senjata’ penangkal BDBV yang kini merebak.
Pengembangan vaksin ebola mengharuskan dilakukan pada fasilitas dengan status Biosafety level (BSL)-4. Itu peringkat tertinggi klasifikasi sistem keamanan laboratorium. Dirancang guna melindungi peneliti, lingkungan, dan masyarakat terhadap paparan patogen dengan risiko tinggi bahaya ekstrem. Hanya negara-negara maju tertentu saja yang mampu memilikinya. Misalnya Kanada, Australia, Prancis, Jerman, Swedia, dan Amerika Serikat. Sebagai perbandingan, laboratorium untuk pemeriksaan covid-19 ‘hanya’ memerlukan status BSL-2. Indonesia memiliki laboratorium dengan BSL-3.
Sejatinya, mekanisme proteksi terhadap ebola hingga kini belum dapat dipahami dengan baik. Karena itulah, riset vaksin masih dalam taraf pengembangan guna mengetahui dengan pasti peranan setiap komponen sistem imun. Harapannya, satu platform vaksin bisa digunakan untuk mencegah semua galur ebola. Akan tetapi, realitasnya setiap galur ebola memiliki tingkat keragaman yang tinggi pada struktur antigennya. Dampaknya, proteksi silang suatu rancangan vaksin terhadap semua galur akan sulit dicapai. Karena itulah vaksin EBOV tidak mampu mencegah BDBV.
Sebelum diterapkan pada manusia, riset vaksin harus dapat memastikan tingkat keamanan dan efektivitasnya pada hewan coba yang relevan. Persoalannya, untuk menilai derajat imunogenisitas dan proteksinya, hanya bisa dilakukan pada primata non-manusia. Selain kendala kompleksnya masalah etika, penyediaannya memerlukan biaya yang sangat mahal. Ketika dilakukan uji klinis fase III konvensional pada manusia pun diperlukan sampel dengan jumlah yang signifikan. Idealnya, paparan patogennya juga bersifat konsisten.
Sebaliknya, wabah ebola sering bersifat sporadis, dengan jumlah kasus yang relatif kecil. Hambatan etis turut menjadi pertimbangan penting. Penggunaan plasebo untuk mengevaluasi efektivitas vaksin pada kasus dengan mortalitas tinggi dianggap tidak bermoral. Di lapangan, uji klinis terkendala beragam masalah. RDK merupakan negara kurang berkembang dengan stabilitas politik yang rendah. Minimnya infrastruktur, tingginya angka korupsi, perang saudara yang tak berkesudahan, dan indeks pembangunan manusia (IPM) yang tergolong rendah menjadi kendala lainnya. Peringkat IPM RDK menempati angka ke-175 dari 191 negara di seluruh dunia. Ironisnya, sangat minim kepedulian dari negara-negara lainnya. Terutama dari negara maju.
Industri vaksin memerlukan pendanaan riset yang luar biasa besar. Tingkat keberhasilannya pun tergolong minim. Sebagai contoh, dari ratusan riset kandidat vaksin covid-19, hanya puluhan yang berhasil ‘lulus’ untuk digunakan secara masal.
DIPERLUKAN MOBILISASI KEMITRAAN
Di sisi lain, umumnya wabah ebola berasal dari negara-negara berpendapatan rendah. Diprediksi mereka tidak mampu menyediakan vaksin, tanpa uluran tangan lembaga-lembaga multilateral, mitra filantropi, ataupun industri kesehatan global. Akibatnya insentif komersial bagi industri farmasi sangat terbatas. International Monetary Fund (IMF) menggambarkan fenomena tersebut sebagai siklus ‘panic and neglect’. Artinya pendanaan riset melonjak saat krisis, tetapi cepat menurun ketika ancaman wabah mereda.
Vaksin rVSV-ZEBOV-GP yang kini digunakan pun, memiliki riwayat suram dari sisi pendanaan. Sebelum 2014, vaksin yang dikembangkan oleh Public Health Agency of Canada sejak awal tahun 2000-an terhambat karena kekurangan sponsor industri.
Kini, riset beberapa platform vaksin ebola masih terus berlangsung. Diperlukan mobilisasi kemitraan publik-swasta demi mempercepat kemanfaatannya.
