
UPAYA mengurangi emisi karbon di industri minyak dan gas (migas) terus dilakukan melalui penggunaan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Dalam ajang The Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 di Tangerang pekan lalu, perusahaan teknologi industri asal Jerman, Henkel, memperkenalkan sejumlah solusi yang ditujukan untuk membantu pengurangan emisi dari kegiatan operasional migas.
Perusahaan menilai pengurangan emisi dapat dilakukan melalui peningkatan kondisi aset dan efisiensi energi pada infrastruktur yang sudah ada, tanpa harus melakukan perubahan besar pada sistem produksi utama.
Dua teknologi yang diperkenalkan yakni Stopaq dan Mascoat. Stopaq disebut mampu menekan emisi karbon dibandingkan metode perlindungan korosi konvensional. Sementara Mascoat dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi termal, sehingga dapat membantu mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi operasional.
Kedua teknologi tersebut berfokus pada perawatan pencegahan dan menjaga kondisi aset agar tetap optimal. Pendekatan ini dinilai dapat membantu perusahaan mengurangi potensi emisi akibat kehilangan panas, korosi, maupun kebocoran pada infrastruktur.
Selain itu, perpanjangan usia pakai aset juga dinilai dapat menekan kebutuhan material baru, seperti baja, yang proses produksinya menghasilkan emisi karbon cukup tinggi.
“Ini sekaligus mengoptimalkan konsumsi energi pada peralatan produksi yang rentan mengalami penurunan performa,” ujar OPEX Manager SEA Henkel Adhesive Technologies, Mickey Kasemphaibulsuk, dalam keterangan resminya.
Henkel juga menyatakan teknologi tersebut diharapkan dapat membantu industri migas meningkatkan efisiensi operasional dan pengelolaan aset secara lebih terencana.
Perusahaan yang berdiri sejak 1876 itu bergerak di bidang teknologi perekat, pelapis, serta produk konsumen rumah tangga dan perawatan rambut. Beberapa merek yang dimiliki antara lain Loctite, Persil, dan Schwarzkopf. (E-4)
