
TEKANAN dunia kerja yang semakin kompetitif membuat banyak generasi muda merasa tidak cukup hanya menyelesaikan pekerjaan kantor. Di tengah perkembangan artificial intelligence (AI) yang bergerak cepat, pekerja muda kini dituntut terus meng-upgrade diri, membangun relasi, dan beradaptasi dengan perubahan agar tetap relevan di dunia profesional.
Fenomena ‘capek kerja tapi tetap harus upgrade diri’ pun menjadi realita baru generasi produktif perkotaan. Setelah jam kerja selesai, banyak profesional muda masih meluangkan waktu mengikuti kegiatan pengembangan diri, networking, hingga diskusi karier untuk memperluas wawasan dan koneksi.
Perubahan itu ikut menggeser cara anak muda membangun relasi profesional. Jika dulu networking identik dengan seminar formal atau acara korporat yang kaku, kini generasi muda lebih memilih ruang networking yang santai, intimate, tetapi tetap memberi insight dan peluang bertumbuh.
Fenomena tersebut terlihat dalam kegiatan ‘Nyusu After Office’ yang digelar Susu Mbok Darmi di Rumah Wijaya, Jakarta Selatan, 22 Mei 2026. Mengangkat tema ‘AI vs Humans: Who Stays Relevant?’, acara ini memadukan networking, diskusi dunia kerja, dan obrolan seputar AI dalam suasana after office hangout yang lebih kasual.
Berawal dari brand susu segar lokal yang dikenal dekat dengan keseharian anak muda, Susu Mbok Darmi kini mencoba membangun ruang interaksi dan komunitas yang relevan dengan gaya hidup generasi produktif masa kini.
Mengusung semangat bahwa ‘ngobrol baik sering dimulai dari segelas susu’, Susu Mbok Darmi menghadirkan konsep networking yang tidak sekadar menjadi tempat nongkrong, tetapi juga ruang untuk bertemu ide baru, memperluas koneksi, dan saling bertumbuh di tengah cepatnya perubahan dunia kerja.
CEO Susu Mbok Darmi, Dhony Pratama, mengatakan anak muda saat ini tidak hanya mencari acara yang informatif, tetapi juga ruang yang nyaman secara emosional untuk saling terhubung dan berbagi keresahan yang sama.
“Sekarang anak muda bukan cuma cari acara yang insightful, tapi juga yang nyaman secara emosional. Mereka ingin tempat untuk connect, recharge, dan merasa tidak sendirian menghadapi tekanan dunia kerja modern,” ujar Dhony.
Menurutnya, konsep networking saat ini juga mulai berubah. Networking bukan lagi sekadar bertukar kartu nama di ballroom hotel, tetapi tentang membangun koneksi yang lebih authentic, santai, dan relate dengan kehidupan sehari-hari.
Acara ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang industri kreatif dan digital, seperti Airlangga Aridharma, Edward Santoso, dan Riska Putri.
Mereka membahas bagaimana AI mulai mengubah cara manusia bekerja, skill yang mulai tergeser, hingga kemampuan yang justru semakin penting di era sekarang seperti komunikasi, kreativitas, leadership, dan kemampuan membangun relasi.
Selain membahas ancaman AI terhadap dunia kerja, diskusi juga menyoroti bagaimana teknologi sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai tools untuk mempermudah pekerjaan dan meningkatkan produktivitas, bukan semata menjadi ancaman bagi manusia.
Berbeda dari seminar karier yang terasa formal dan penuh teori, ‘Nyusu After Office’ dikemas seperti social space modern untuk generasi produktif. Peserta datang setelah pulang kerja untuk networking sambil menikmati free flow susu segar, mengikuti interactive session, hingga berbincang santai dengan profesional dari berbagai industri.
Suasana acara juga dibuat lebih hangat dan intimate dengan networking space lintas industri, doorprize, serta konsep after office gathering yang lebih cair dan personal.
Tren networking event dengan konsep santai dan meaningful seperti ini dinilai semakin diminati di kota-kota besar. Banyak anak muda kini mulai lebih selektif memilih komunitas dan tempat berkumpul. Mereka tidak hanya mencari tempat yang menarik untuk media sosial, tetapi juga ruang yang memberi value bagi pengembangan diri dan karier.
Di tengah dunia kerja yang semakin digital dan kompetitif, kebutuhan untuk tetap terkoneksi secara personal justru dinilai semakin penting.
Karena di balik perkembangan AI dan teknologi, banyak generasi muda ternyata masih mencari satu hal yang sama: ruang untuk bertumbuh, berbagi keresahan, dan merasa terhubung sebagai manusia. (E-1)
