
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (18/5) pagi anjlok 3,87% pada pukul 10.03 WIB. Pelemahan tajam ini terjadi seiring meningkatnya tekanan dari sentimen global, mulai dari ketegangan geopolitik hingga ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama di pasar keuangan internasional.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto menjelaskan, aksi jual di pasar dipicu oleh memanasnya konflik Amerika Serikat (AS)–Iran yang berkepanjangan.
Kondisi tersebut turut mendorong harga minyak Brent bertahan di kisaran USD110 per barel, sehingga memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi tidak lagi bersifat sementara (transitory), melainkan berpotensi menjadi struktural.
“Data inflasi AS yang dirilis berturut-turut mengonfirmasi tekanan harga, mendorong ekspektasi pasar bergeser dari skenario pelonggaran menuju kemungkinan suku bunga global lebih tinggi untuk lebih lama,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Menurut Rully, perubahan ekspektasi tersebut memicu repricing di pasar keuangan global yang berdampak langsung ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Risiko aliran keluar dana asing (capital outflow) dari pasar obligasi maupun saham meningkat, yang pada akhirnya menekan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), melemahkan nilai tukar rupiah.
“Serta, membebani kinerja IHSG pada awal pekan ini,” ucapnya.
Menurutnya, tekanan di pasar domestik tidak lepas dari gejolak pasar obligasi global yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya, Jumat (15/5). Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (UST) tenor 10 tahun melonjak ke 4,59%, sementara tenor 2 tahun naik ke 4,07%—keduanya mencapai level tertinggi dalam satu tahun terakhir.
Kenaikan imbal hasil juga terjadi di berbagai negara maju. Yield obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 30 tahun menembus 4% untuk pertama kalinya sejak 1999, sementara imbal hasil UK gilts tenor 10 tahun naik ke 5,17%, tertinggi sejak 2008.
Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 99,28 seiring meningkatnya arus dana menuju aset safe haven (flight-to-quality), menandakan tingginya kehati-hatian investor global. (E-3)
