
ISRAEL melancarkan serangkaian serangan udara besar-besaran ke wilayah Libanon selatan pada Sabtu (16/5) waktu setempat, sehari setelah perpanjangan gencatan senjata antara kedua negara disepakati.
Militer Israel menyatakan serangan tersebut menargetkan kelompok Hizbullah. Namun, sebelum serangan dilakukan, Israel mengeluarkan peringatan evakuasi yang mencakup sembilan desa di Libanon selatan.
Media pemerintah Libanon, National News Agency (NNA), melaporkan serangan menghantam lebih dari dua lusin desa, termasuk satu wilayah yang berjarak lebih dari 50 kilometer dari perbatasan Israel.
Gelombang Pengungsian
Serangan itu memicu gelombang pengungsian baru warga menuju Kota Sidon dan Ibu Kota Beirut.
Di tengah situasi tersebut, Hizbullah mengumumkan telah menyerang target militer Israel di wilayah utara menggunakan drone tempur.
Kelompok itu menyatakan pasukannya menargetkan “barak Ya’ara … dengan kawanan drone serang”, setelah sebelumnya mengeklaim melakukan sejumlah operasi terhadap pasukan Israel di Libanon selatan.
Pada Jumat, Israel dan Libanon sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 45 hari. Gencatan senjata sebelumnya mulai berlaku pada 17 April, namun diwarnai berbagai pelanggaran dari kedua pihak.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyambut baik perpanjangan tersebut dan mendesak semua pihak menghormati penghentian permusuhan.
Meski demikian, Israel masih terus melancarkan serangan di Libanon dan mempertahankan pasukan di wilayah dekat perbatasan. Di sisi lain, Hizbullah juga rutin mengklaim serangan terhadap wilayah utara Israel dan pasukan Israel di Libanon selatan.
Militer Israel pada Sabtu menyatakan satu tentaranya tewas dalam pertempuran di Libanon selatan. Dengan demikian, jumlah korban tewas dari pihak Israel sejak perang dengan Hizbullah pecah pada awal Maret mencapai 21 personel.
Negosiasi dan Korban Tewas
Menurut otoritas Libanon, lebih dari 2.900 orang telah tewas akibat serangan Israel sejak konflik dimulai, termasuk lebih dari 400 korban sejak gencatan senjata diberlakukan.
Serangan terbaru terjadi setelah utusan Israel dan Libanon menggelar negosiasi di Washington. Pembicaraan itu menjadi dialog langsung pertama kedua negara dalam beberapa dekade terakhir, meski keduanya tidak memiliki hubungan diplomatik resmi.
Hizbullah yang didukung Iran menolak negosiasi tersebut dan menyatakan serangan terhadap Israel dilakukan sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata.
Kelompok itu menyebut tindakan mereka dipicu oleh “serangan yang menargetkan desa-desa di Libanon selatan”.
Warga sipil Libanon yang mengungsi menilai gencatan senjata belum benar-benar berjalan.
“Ini bukan gencatan senjata selama serangan Israel terus berlanjut terhadap wilayah selatan dan rakyatnya, dengan korban tewas, luka-luka, dan kehancuran,” kata Ali Salameh, 60, yang mengungsi di sebuah sekolah di Beirut sejak perang dimulai.
Warga lainnya, Nawal Mezhir, menyatakan dukungannya terhadap perlawanan Hizbullah.
“Gencatan senjata macam apa ini ketika mereka baru saja mengancam desa-desa dan warga kembali mengungsi? Di mana negara? Kami hanya berdiri bersama perlawanan,” ujarnya. (CNA/B-3)
