
PT Modal Saham Asia Investama, yang kini dikenal luas melalui brand ModalSaham, memasuki babak baru melalui Fast Track Financing Batch II-2026. Dari perusahaan yang dikenal publik sebagai platform equity crowdfunding pada 2019, ModalSaham kini bergerak sebagai private equity yang menyiapkan pembiayaan, pendampingan, dan arah pertumbuhan bagi perusahaan yang ingin naik kelas.
Program terbaru ini menargetkan total fasilitas pembiayaan hingga USD 6 Juta atau Rp100 Miliar untuk 10 perusahaan terpilih.
Muhammad Reza Alkhawarismi, CEO ModalSaham, menjelaskan bahwa perubahan dari crowdfunding menuju private equity bukan lompatan yang terputus.
Ia menilai bahwa sejak awal ModalSaham dibangun untuk mempertemukan sumber pendanaan dengan usaha yang layak tumbuh, lalu berkembang menjadi pendamping yang lebih aktif agar perusahaan tidak hanya mendapat dana, tetapi juga lebih siap menghadapi investor, perbankan, dan pasar modal.
Jejak itu dimulai pada Februari 2019. ModalSaham hadir dengan konsep equity crowdfunding yang membuka ruang bagi investor ritel maupun institusi untuk berpartisipasi pada perusahaan mitra.
Tujuan besarnya sudah terlihat sejak awal, yaitu membantu UKM dan startup memperoleh akses pendanaan serta menyiapkan peluang IPO di kemudian hari.
Setelah itu, ModalSaham memperluas peran. Perusahaan mengembangkan ekosistem pendampingan melalui inkubator, venture studio, advisory, dan layanan yang menyentuh pemasaran, keuangan, operasional, sumber daya manusia, serta legal.
Perubahan ini penting karena banyak perusahaan tidak cukup hanya diberi dana. Mereka membutuhkan pembukuan yang tertib, dokumen legal yang aman, strategi penjualan yang jelas, dan kemampuan membaca valuasi sebelum berbicara tentang pasar modal.
Gunakan agunan
Dalam sejarah perkembangannya, fase private equity ModalSaham diawali dengan pembiayaan yang menggunakan agunan atau jaminan. Pendekatan ini memberi ruang bagi perusahaan yang memiliki aset untuk memperoleh pembiayaan secara lebih terstruktur.
Seiring waktu, ModalSaham melihat peluang yang lebih luas. Banyak perusahaan memiliki pesanan, kontrak, invoice, atau proyek yang jelas, tetapi belum memiliki agunan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pembiayaannya.
Dari situ, ModalSaham mengembangkan produk pembiayaan tanpa jaminan yang lebih menekankan kelayakan transaksi, arah penggunaan dana, dan potensi pertumbuhan. Alur inilah yang menyambungkan sejarah ModalSaham dengan lahirnya Fast Track Financing.
Dari dasar tersebut, Fast Track Financing hadir sebagai bentuk yang lebih praktis. Program ini menyasar perusahaan yang sudah memiliki usaha berjalan, transaksi nyata, dan kebutuhan pembiayaan yang jelas.
Pembiayaan dapat digunakan untuk membeli aset produktif, memperkuat modal kerja, menjalankan proyek, memenuhi pesanan, mengelola rantai pasok, membeli persediaan, atau memperbaiki struktur pembiayaan agar perusahaan dapat bergerak lebih cepat.
Kebutuhan modal kerja perusahaan selalu memiliki dua sisi. Ada peluang besar ketika pasar sudah terbuka, kontrak tersedia, dan pelanggan mempercayakan pekerjaan.
Namun ada tekanan ketika pembayaran mundur, biaya operasional menumpuk, mesin belum cukup, atau aset pendukung belum tersedia.
Perusahaan yang ingin naik kelas harus mampu menjaga keduanya. Mereka perlu mengambil peluang tanpa mengabaikan disiplin arus kas, tata kelola, dan risiko pembayaran.
“ModalSaham tidak ingin hanya menjadi tempat perusahaan mencari pembiayaan. Kami ingin menjadi pintu masuk untuk memperbaiki cara perusahaan bertumbuh. Ada perusahaan yang butuh truk, ada yang butuh mesin, ada yang butuh gudang, ada yang butuh dana untuk menjalankan proyek. Semua kebutuhan itu sah, tetapi harus dibaca dengan rencana yang jelas. Jika dana masuk ke titik yang tepat, efeknya bisa terlihat pada aset, omzet, efisiensi, dan kredibilitas perusahaan”, tandas Reza.
Rp40 miliar
Pembuktian awal terlihat pada Fast Track Financing Batch I-2025. ModalSaham menyalurkan pembiayaan Rp40 Miliar ke sektor electric vehicle, fabrikasi, konveksi, konstruksi, logistik, outsourcing, pangan, perminyakan, dan teknologi.
Peserta terpilih mampu membeli kantor, gudang, pabrik, serta kendaraan operasional secara cash.
Dalam setahun, beberapa perusahaan mencatat kenaikan omzet hingga 2 sampai 3 kali lipat karena kapasitas kerja ikut bertambah.
Pada Batch II-2026, ModalSaham menaikkan target menjadi Rp100 Miliar. Hingga akhir April 2026, program ini telah menyalurkan pembiayaan Rp20 niliar kepada 3 perusahaan.
Dengan demikian, masih tersedia kuota 7 perusahaan dengan sisa plafon pembiayaan Rp80 miliar.
Pendaftaran dibuka sampai 31 Juli 2026, sedangkan penyaluran pembiayaan dijadwalkan berjalan pada Maret sampai Oktober 2026. Ruang yang tersedia ini diarahkan untuk perusahaan yang sudah memiliki transaksi nyata dan ingin menyiapkan langkah ekspansi dengan lebih rapi.
Program ini ditujukan kepada CV atau PT berusia minimal 2 tahun, berdomisili di DKI Jakarta, Jawa Barat, atau Banten. Peserta diharuskan memiliki BI Checking atau SLIK bersih, menjalankan bisnis B2B dengan pemberi kerja yang jelas, dan mencatat omzet minimal Rp12 miliar per tahun.
Kriteria tersebut membuat Fast Track Financing lebih relevan bagi perusahaan yang sudah melewati fase ide dan sedang membutuhkan dorongan untuk memperluas aset, memperbesar kapasitas, atau menyiapkan struktur pertumbuhan.
Dalam kerangka menuju private equity dan IPO, Reza memandang bahwa 3F merupakan lapisan pendanaan paling awal sebelum perusahaan layak dinilai secara profesional.
Ia menjelaskan bahwa family, friends, and fools membantu pendiri membangun bukti pasar, disiplin pengelolaan dana, dan kepercayaan dasar sebelum masuk ke standar investor yang lebih ketat.
Pada istilah itu, fools dipahami sebagai pihak yang mengambil risiko awal karena percaya pada kualitas pendiri.
“Sebelum bicara private equity atau IPO, perusahaan harus membuktikan bahwa uang kecil pun bisa dikelola dengan benar. Dari 3F, pendiri belajar menjaga komitmen, membaca angka, dan menunjukkan pertumbuhan yang wajar. Kalau disiplin ini kuat sejak awal, proses naik kelas tidak lagi menjadi cerita besar di atas kertas, tetapi jalan yang bisa ditelusuri. Jika lapisan 3F belum berani mendukung, perusahaan belum cukup proven untuk naik ke penilaian private equity, investor publik, atau IPO,” tandasnya.
Pengurus HIPMI
Arah seleksi itu sejalan dengan profil Reza sebagai pelaku usaha yang tumbuh dari pendidikan, pasar modal, dan organisasi pengusaha.
Ia memiliki latar belakang pendidikan Manajemen Bisnis di salah satu universitas negeri ternama, yakni Universitas Padjadjaran, aktif di Financial Market Community FEB Universitas Padjadjaran, serta memegang sertifikasi CSA dan WPEE.
Certified Securities Analyst atau CSA memberi dasar dalam membaca nilai dan risiko usaha, sedangkan WPEE atau Wakil Penjamin Emisi Efek memperkuat pemahaman tentang proses emisi efek dan standar perusahaan yang ingin masuk pasar modal.
Dengan bekal itu, pendampingan ModalSaham tidak berhenti pada pencairan dana, tetapi bergerak pada pembenahan struktur bisnis agar perusahaan lebih siap menghadapi penilaian investor dan publik.
Kesiapan menuju pasar modal juga tersambung dengan peran Reza di HIPMI. Saat ini ia dipercaya sebagai Ketua Kompartemen Keuangan, Perbankan, dan Perencanaan Pembangunan BPD HIPMI Jawa Barat periode 2025-2028.
Peran ini membuatnya dekat dengan isu yang sama dengan tujuan Fast Track Financing, yaitu membantu perusahaan muda dan perusahaan B2B naik kelas melalui pembiayaan produktif, pembelian aset, penguatan modal kerja, pembenahan tata kelola, dan kesiapan menuju IPO di Bursa Efek Indonesia.
Jalur awal
Dalam alur tersebut, IPO dipahami sebagai tahap ketika perusahaan membuka kepemilikan saham kepada publik melalui Bursa Efek Indonesia. Manfaatnya bukan hanya memperoleh sumber pendanaan baru, tetapi juga meningkatkan reputasi, memperluas basis investor, memperkuat disiplin laporan keuangan, dan mendorong tata kelola yang lebih terbuka.
Karena itu, Fast Track Financing ditempatkan sebagai jalur awal untuk memilih perusahaan yang punya potensi tumbuh. Setelah itu mendampingi mereka dari kebutuhan pembiayaan hari ini menuju kesiapan korporasi yang lebih matang.
“IPO bukan tujuan yang bisa dicapai dalam semalam. Perusahaan harus menyiapkan laporan keuangan, tata kelola, model bisnis, aset, pasar, dan cerita pertumbuhan yang bisa diterima publik. Fast Track Financing adalah langkah awal untuk memilih perusahaan yang punya potensi ke arah sana. Kami ingin mendampingi mereka dari kebutuhan yang paling konkret hari ini, lalu pelan-pelan menyusun fondasi agar suatu saat layak masuk ke panggung yang lebih besar,” pungkasnya.
Melalui Batch II-2026, ModalSaham mencari perusahaan yang tidak hanya membutuhkan fasilitas pembiayaan, tetapi juga siap bertanggung jawab atas pertumbuhan.
Bagi pemilik usaha yang ingin membeli aset, memperkuat modal kerja, dan menyiapkan rute menuju IPO, program ini dapat menjadi pintu awal untuk masuk ke pendampingan yang lebih terarah, dengan proses seleksi yang menekankan kesiapan usaha, kualitas transaksi, dan kejelasan penggunaan dana.
