Perompak Somalia Manfaatkan Perang AS-Iran dan Pengalihan Rute Kapal Dunia
Warga Somalia.(Al Jazeera)

JARINGAN perompak Somalia dilaporkan meraup keuntungan besar dari eskalasi perang AS-Israel di Iran. Konflik yang memanas di Timur Tengah mencekik lalu lintas melalui Selat Hormuz, rute vital bagi sekitar 20% pasokan minyak, gas alam, dan bahan baku kritis dunia.

Kondisi ini memaksa kapal-kapal komersial melakukan pengalihan rute (detour) yang jauh melewati ujung selatan Afrika. Ironinya, rute alternatif ini justru membawa kapal-kapal tersebut masuk langsung ke zona serang perompak di cekungan Somalia yang bergejolak.

Biaya Operasional Membengkak

Pengalihan rute ini diperkirakan menambah beban biaya hingga US$1 juta (sekitar Rp16 miliar) per kapal. Lonjakan biaya ini disebabkan oleh meningkatnya konsumsi bahan bakar, premi asuransi yang meroket, serta biaya operasional tambahan akibat waktu tempuh yang bertambah berminggu-minggu.

Situasi ini memberikan celah bagi perompak untuk bangkit kembali setelah bertahun-tahun wilayah pesisir Somalia relatif tenang. Berdasarkan penasihat dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) per 12 Mei, perompak Somalia saat ini menahan setidaknya tiga kapal yaitu dua kapal tanker minyak dan satu kapal kargo umum.

Catatan Sejarah:

Pada puncaknya di tahun 2011, perompakan Somalia mencatat rekor 237 insiden yang merugikan ekonomi global sebesar US$7 miliar. Para ahli khawatir sejarah kelam ini akan terulang kembali seiring melemahnya pengawasan di wilayah tersebut.

Vakum Keamanan dan Aliansi Strategis

Manu Lekunze, pakar hubungan internasional dari University of Aberdeen, menjelaskan bahwa perang di Iran menciptakan vakum keamanan. Armada angkatan laut yang sebelumnya fokus menekan perompakan kini dialihkan untuk mengawal kapal kargo melewati Selat Hormuz atau berkonsentrasi di Teluk Persia.

Selain faktor eksternal, anggota parlemen Somalia, Mohamed Dini, menyoroti ada indikasi aliansi baru yang berbahaya. “Jaringan perompak diduga mulai menjalin aliansi dengan pasukan Houthi di Yaman yang sebelumnya menargetkan kapal-kapal di Laut Merah,” ungkap Dini kepada CNN.

Respons Internasional

Meskipun ada laporan mengenai pengalihan fokus armada, pasukan angkatan laut Uni Eropa, Operation Atalanta, menegaskan bahwa aset mereka tetap disiagakan untuk operasi antiperompakan. Bulan lalu, mereka berhasil membebaskan kapal berbendera Iran yang dibajak di lepas pantai Somalia.

Saat ini, intelijen Uni Eropa meyakini terdapat tiga kelompok aksi perompak yang aktif di bagian utara Somalia. Kelompok-kelompok ini didukung oleh elemen darat untuk logistik dan elemen laut untuk eksekusi serangan. Kapal-kapal yang melintas diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan tinggi dan melaporkan setiap aktivitas mencurigakan di wilayah tersebut. (I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *