Dari Bali untuk Perubahan, Perjalanan Ni Kadek Putri Menyatukan Lingkungan, Pendidikan, dan Literasi
Ni Kadek Putri, perempuan asal Bali ini merupakan salah satu penerima Program Fellowship Tanoto Foundation angkatan pertama.(Dok. Tanoto Foundation)

BERANGKAT dari keresahan sederhana tentang lingkungan dan pendidikan, Ni Kadek Putri memilih turun langsung mendampingi masyarakat desa dan membangun gerakan kolektif yang berakar dari kebiasaan sehari-hari. Perempuan asal Bali ini merupakan salah satu penerima Program Fellowship Tanoto Foundation angkatan pertama dengan kisah perjalanan yang menginspirasi.

Bagi Putri, perubahan sosial tidak selalu lahir dari langkah besar. Kadang, perubahan justru tumbuh dari hal-hal sederhana: membaca buku, berbincang dengan masyarakat, atau mengajarkan anak-anak untuk lebih memahami lingkungan di sekitar mereka.

Selama enam tahun terakhir, Putri aktif bekerja di lapangan menyuarakan isu-isu lingkungan sejak masih menempuh pendidikan di bangku kuliah. Lulusan Sarjana Pendidikan dengan spesialisasi Biologi tersebut memilih jalan yang membawanya terhubung langsung dengan masyarakat mulai dari mendampingi desa membangun sistem pengelolaan sampah hingga mengembangkan modul pembelajaran bersama institusi pendidikan.

Meski kini banyak berkecimpung di isu lingkungan, dunia pendidikan tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya.

“Saya masih sangat suka mengajar dan bertemu dengan peserta didik,” ujarnya.

Di luar aktivitasnya sebagai pekerja lapangan, Putri juga memiliki kecintaan besar pada buku. Ia bahkan memiliki mimpi kecil membangun perpustakaan kolektif untuk anak-anak di rumahnya. Baginya, literasi adalah pintu untuk memahami banyak persoalan, termasuk lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Hal itulah yang kemudian membuatnya selalu menyelipkan pendidikan dan literasi dalam setiap kerja-kerja sosial yang ia lakukan.

Membumikan SDGs Lewat Kebiasaan Sehari-hari

Saat ini, Putri banyak mendampingi desa-desa di Bali untuk membangun sistem pengelolaan sampah terintegrasi melalui pendekatan partisipatif. Ia juga aktif mengembangkan bahan ajar dan modul pembelajaran bersama institusi pendidikan.

Tak hanya itu, Putri turut merespons berbagai isu di daerahnya melalui kampanye #LocalizingSDGs, sebuah ruang belajar yang mencoba membumikan Sustainable Development Goals (SDGs) lewat praktik kehidupan masyarakat Bali sehari-hari.

Menurutnya, masyarakat sering kali merasa isu global terlalu jauh dari realitas mereka. Padahal, banyak nilai keberlanjutan sebenarnya sudah hidup dalam tradisi dan kebiasaan lokal yang diwariskan turun-temurun.

“Narasi global itu sebenarnya bisa kita lihat sangat dekat melalui kebiasaan sehari-hari. Jadi, semua punya peran,” katanya.

Sebagai pekerja lapangan, kesehariannya dipenuhi aktivitas bertemu banyak orang. Ia bekerja bersama pemerintah desa, kelompok masyarakat, komunitas, hingga sekolah-sekolah untuk membangun kesadaran lingkungan.

Dalam pekerjaannya, Putri juga mendampingi ibu-ibu kader membangun kepemimpinan hijau di lingkungan mereka. Edukasi door-to-door menjadi bagian dari rutinitas yang dijalani hampir setiap hari.

Program yang dijalankannya pun sering menyasar sekolah-sekolah. Di sana, Putri mencoba mengembangkan pendekatan pembelajaran lingkungan yang lebih menyenangkan dan berbasis literasi numerasi.

“Menyatukan isu lingkungan dengan literasi numerasi? Bisa. Itu yang sedang saya upayakan,” ujarnya sambil tertawa.

Belajar Melihat Pendidikan Lebih Luas lewat Fellowship

Perjalanan Putri memahami dunia pendidikan dalam lingkup yang lebih besar dimulai pada 2024 ketika ia mengenal Fellowship Tanoto Foundation melalui media sosial.

Ketertarikannya terhadap isu pendidikan membuatnya melihat fellowship tersebut sebagai ruang belajar sekaligus kesempatan membangun jejaring dengan anak muda dari berbagai daerah.

Ia ingin melihat bagaimana ekosistem pendidikan bekerja dalam lingkup nasional dan bagaimana pengalaman itu nantinya dapat diterapkan dalam kerja-kerjanya di tingkat tapak.

Kesempatan tersebut kemudian membawanya bertemu dengan delapan fellow lainnya dan ditempatkan di Regional Kalimantan pengalaman pertama Putri merantau jauh dari Bali.

Meski awalnya terasa asing, pengalaman itu justru menjadi ruang tumbuh yang berharga baginya.

Apalagi, proyek yang ia koordinasikan banyak melibatkan guru-guru di Kalimantan Timur yang menurutnya begitu hangat dan penuh semangat mengajar.

“Sampai sekarang saya masih ingat semangat mereka untuk mengabdi,” katanya.

Namun, perjalanan selama fellowship tidak selalu berjalan mudah. Putri mengaku sempat merasa tertinggal dibandingkan rekan-rekannya, terutama dalam kemampuan membaca dan mengolah data.

Alih-alih terjebak dalam rasa minder, ia memilih menjadikan hal tersebut sebagai ruang belajar. Ia aktif berdiskusi secara daring dengan teman-temannya, meminta bantuan untuk belajar analisis data, hingga meminta mereka meninjau kembali dokumen yang ia kerjakan.

Selama satu tahun menjalani fellowship, kemampuan mengambil keputusan berbasis data menjadi hal yang paling melekat dalam dirinya.

“Saya akhirnya belajar bagaimana membaca data, menganalisis, dan menyimpulkan. Itu sangat membantu saya saat melakukan advokasi kepada stakeholder,” ujarnya.

Bagi Putri, fellowship tersebut terasa berbeda karena tidak hanya berorientasi pada capaian proyek, tetapi juga pertumbuhan manusia di dalamnya. Proses refleksi melalui jurnal yang rutin dibahas bersama menjadi pengalaman yang sangat membekas baginya.

“Yang dibangun bukan hanya proyek, tetapi kemampuan yang bisa dibawa sampai kapan pun,” katanya.

Salah satu momen yang paling ia ingat adalah ketika menghadiri sebuah seminar di Universitas Mulawarman dan bertemu idolanya, Gita Wirjawan.

“Ini bonus jackpot sih,” ujarnya sambil tertawa.

Membangun Gerakan Kolektif untuk Masa Depan

Di balik seluruh perjalanan yang ia jalani, Putri percaya bahwa anak muda memiliki potensi besar untuk menciptakan perubahan sosial.

Menurutnya, kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan tidak harus selalu dimulai dari tindakan besar. Banyak gerakan sosial justru lahir dari keresahan sederhana yang kemudian berkembang menjadi gerakan kolektif.

“Yang menarik, proses menciptakan dampak sosial juga membentuk diri kita. Kita belajar empati, kepemimpinan, komunikasi, dan memahami realitas sosial secara lebih utuh,” ujarnya.

Baginya, dampak sosial bukan hanya tentang perubahan yang dirasakan masyarakat, tetapi juga tentang bagaimana proses tersebut membentuk manusia yang terlibat di dalamnya. (RO/Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *