Strategi Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi: Integrasi Kearifan Lokal dan Teknologi Genomik
Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI XVII 2026 di Yogyakarta, 8-13 Mei 2026.(Dok. MI)

FAKTOR geografis dan keragaman budaya menjadi tantangan krusial bagi dunia kesehatan di Indonesia, khususnya dalam upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Isu strategis ini menjadi bahasan utama dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) XVII 2026 yang berlangsung di Yogyakarta, 8-13 Mei 2026.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2023 menunjukkan kematian ibu global mencapai 197 per 100.000 kelahiran hidup, turun dari 328 pada tahun 2000. Meski demikian, Indonesia masih masuk dalam daftar 10 negara penyumbang beban kematian ibu terbesar di tingkat global. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, AKI di tanah air berkisar antara 177 hingga 189 per 100.000 kelahiran hidup, sementara AKB berada di angka 16 per 1.000 kelahiran hidup.

Hilirisasi Berbasis Kearifan Lokal

Ketua Panitia PIT HOGSI XVII 2026, Eugenius Phyowai Ganap, menegaskan bahwa penurunan AKI dan AKB tetap menjadi prioritas nasional di era modern. Menurutnya, inovasi teknologi harus dibarengi dengan pendekatan yang sesuai karakteristik lokal.

“Upaya ini tidak hanya membutuhkan inovasi teknologi dan kebijakan, tetapi juga pendekatan yang sesuai dengan karakteristik lokal melalui program hilirisasi yang membawa hasil riset ke implementasi nyata di masyarakat,” ujar dosen FK-KMK UGM tersebut di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta, Kamis (13/5).

Senada dengan hal tersebut, Dwiana Ocviyanti, dari Universitas Airlangga menekankan pentingnya sentuhan budaya. “Kebiasaan dan budaya ibu di lingkungannya sangat memengaruhi kesehatan bayi. Tanpa menyentuh kondisi kultur tersebut, upaya penurunan AKI dan AKB akan sulit berhasil,” jelasnya.

Peran Strategis Perguruan Tinggi

Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyoroti lima peran sentral universitas dalam mendukung target kesehatan nasional ini, yakni pendidikan dan pelatihan tenaga medis, penelitian dan inovasi berkelanjutan, kampanye perubahan perilaku sehat, kolaborasi lintas sektor (Pemerintah, NGO, Korporasi), serta pelayanan kesehatan melalui rumah sakit pendidikan.

“Universitas berperan sebagai penyedia evidence, pemerintah sebagai regulator, sementara NGO dan korporasi menjadi fasilitator dalam satu ekosistem terpadu,” tutur Ova.

Inovasi Kedokteran Genomik

Di sisi teknologi, Guru Besar FK-KMK UGM, Prof. Gunadi, memperkenalkan potensi genomic medicine (kedokteran genomik). Teknologi ini menggunakan informasi genetik untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan terapi presisi, termasuk untuk menekan angka stunting yang tidak hanya disebabkan gizi, tapi juga faktor genetik dan epigenetik.

Saat ini, Indonesia melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSi) di RS Dr. Sardjito dan UGM telah mengumpulkan lebih dari 20.000 data whole genome sequencing. Namun, tantangan besar masih membayangi.

“Penerapan skrining genomik secara luas masih memerlukan dukungan regulasi, infrastruktur, serta ketersediaan pemeriksaan dan pengobatan dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat luas,” pungkas Gunadi. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *