
Analis pasar modal sekaligus founder Republik Investor Hendra Wardana menilai tekanan dari rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International masih membayangi pasar saham domestik setelah enam saham besar Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index pada evaluasi Mei 2026. Meski demikian, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dinilai relatif lebih terkendali dibanding gejolak sebelumnya yang sempat memicu trading halt.
Hendra menjelaskan, pengumuman rebalancing MSCI Mei 2026 menjadi salah satu tekanan terbesar bagi pasar saham Indonesia saat ini. Pasalnya, enam saham besar yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) resmi dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index.
Menurutnya, dampak keputusan tersebut cukup besar karena MSCI merupakan acuan utama banyak fund manager global dan dana indeks pasif dunia. Ketika suatu saham dikeluarkan dari indeks MSCI, investor asing secara otomatis harus mengurangi bahkan menjual kepemilikannya agar portofolio tetap sesuai dengan komposisi indeks. Kondisi ini kemudian memicu tekanan jual asing dan memperbesar volatilitas pasar domestik.
“Menariknya, tekanan IHSG kali ini lebih terkendali dibanding periode sebelumnya yang sempat memicu trading halt. Ini menandakan pasar sudah mengantisipasi keputusan MSCI sejak beberapa pekan terakhir,” ujar Hendra kepada Media Indonesia, Kamis (14/5).
Ia mengatakan, antisipasi pasar tersebut muncul setelah adanya sinyal pembekuan foreign inclusion factor saham Indonesia. Karena itu, sebagian pelaku pasar telah melakukan repricing lebih awal sehingga efek kejut yang terjadi tidak sebesar sebelumnya.
Meski begitu, Hendra menilai dampak MSCI terhadap arus modal asing masih signifikan, dengan investor asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp1,3 triliun. Sementara sejak awal Januari hingga 12 Mei 2026, total net sell asing telah mencapai Rp50,63 triliun. Angka tersebut menunjukkan investor global tengah mengurangi eksposur terhadap emerging markets, termasuk Indonesia.
“Tekanan ini terjadi karena pasar mulai mendekati effective date rebalancing MSCI. Proses forced selling dari passive funds biasanya berlangsung secara bertahap, sehingga arus keluar dana asing masih terus berlanjut,” jelas Hendra.
Ia menambahkan, tekanan tersebut pada dasarnya bersifat jangka pendek dan teknikal. Setelah proses penyesuaian indeks selesai, pasar biasanya mulai menemukan keseimbangan baru dan investor aktif kembali mencari saham-saham dengan valuasi murah.
Hendra menyebut saham-saham yang paling tertekan berasal dari emiten yang dikeluarkan dari MSCI karena berpotensi mengalami penurunan likuiditas dan pengurangan kepemilikan asing. Saham seperti BREN, AMMN, DSSA, CUAN, TPIA hingga AMRT diperkirakan masih rentan mengalami volatilitas dalam jangka pendek akibat tekanan jual asing dan aksi pengurangan bobot portofolio institusi global.
Selain itu, saham perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk juga masih menghadapi tekanan karena investor asing cenderung mengurangi aset berisiko di tengah penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi Amerika Serikat.
Di sisi lain, saham-saham defensif berbasis domestik dinilai relatif lebih diuntungkan karena dianggap lebih tahan terhadap tekanan eksternal. Emiten consumer staples, telekomunikasi, healthcare, serta saham berbasis dividen tinggi mulai menjadi tempat berlindung investor di tengah volatilitas pasar global. Selain itu, saham komoditas tertentu juga masih berpotensi menopang IHSG seiring kenaikan harga energi dunia, meskipun tetap dibayangi risiko tekanan biaya dan volatilitas global.
“Tekanan IHSG saat ini sejatinya bukan hanya berasal dari MSCI semata,” kata Hendra.
Ia berpandangan faktor eksternal global justru menjadi tekanan yang lebih besar terhadap psikologi investor. Inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi membuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed kembali mundur sehingga dolar AS tetap kuat dan yield obligasi AS bertahan tinggi. Kondisi tersebut mendorong aliran dana global keluar dari emerging markets menuju aset safe haven.
Di saat yang sama, tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas membuat harga minyak dunia melonjak mendekati US$100 per barel. Bagi Indonesia, kondisi tersebut dinilai sensitif karena ketergantungan terhadap impor energi masih tinggi. Ketika harga minyak naik di tengah pelemahan rupiah yang mendekati Rp17.500 per dolar AS, maka risiko imported inflation, pelebaran defisit transaksi berjalan, hingga tekanan terhadap APBN ikut meningkat.
Akibatnya, investor mulai mencemaskan stabilitas fiskal, daya beli masyarakat, serta potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik ke depan.
“Dalam kondisi seperti ini, investor sebaiknya tidak mengambil keputusan berdasarkan kepanikan jangka pendek,” imbau Hendra.
Ia memperkirakan volatilitas tinggi masih berpotensi berlanjut hingga akhir Mei, terutama selama proses rebalancing MSCI berlangsung. Namun, investor perlu memahami bahwa tekanan tersebut umumnya bersifat sementara dan lebih dipicu faktor teknikal dibanding perubahan fundamental ekonomi secara drastis.
Karena itu, strategi yang dinilai lebih bijak adalah melakukan seleksi saham secara ketat dengan fokus pada emiten berfundamental kuat, memiliki arus kas sehat, tingkat utang terjaga, dan daya tahan terhadap pelemahan ekonomi global.
Investor jangka pendek juga disarankan menjaga disiplin manajemen risiko dan menghindari penggunaan margin berlebihan di tengah tingginya volatilitas pasar. Sementara bagi investor jangka panjang, koreksi pasar saat ini justru mulai membuka peluang akumulasi bertahap pada saham-saham berkualitas yang valuasinya sudah terkoreksi cukup dalam.
Secara teknikal, IHSG masih berpotensi menguji area support psikologis 6.700 bahkan support berikutnya di kisaran 6.585 apabila tekanan global belum mereda. Namun apabila tensi geopolitik mulai membaik, harga minyak kembali stabil, dan arus keluar asing mulai berkurang setelah rebalancing MSCI selesai, terdapat peluang rebound.
“Peluang rebound tetap cukup terbuka,” tegasnya.
Hendra menambahkan, pasar saat ini cenderung menunggu kepastian arah rupiah, kebijakan suku bunga global, stabilitas harga energi, serta kembalinya aliran dana asing sebelum kembali bergerak lebih agresif. Karena itu, fase saat ini lebih tepat dipandang sebagai periode konsolidasi dan penyesuaian valuasi dibanding awal dari krisis besar seperti yang dikhawatirkan sebagian pelaku pasar. (E-3)
