
MANTAN pemain bola basket profesional, Jason Collins, yang mencatatkan sejarah sebagai atlet pria aktif pertama di liga olahraga besar Amerika Serikat yang terbuka mengenai identitasnya sebagai gay, meninggal dunia pada usia 47 tahun.
Pihak keluarga melalui pernyataan resmi yang dibagikan National Basketball Association (NBA), Selasa (12/5) menyebutkan Collins wafat setelah “perjuangan berani melawan glioblastoma,” sebuah bentuk kanker otak yang sangat agresif.
Tahun lalu, Collins mengumumkan kepada publik bahwa ia didiagnosis menderita kanker yang tidak dapat dioperasi tersebut. Ia telah menjalani berbagai pengobatan intensif, termasuk penggunaan obat Avastin dan perjalanan medis ke Singapura untuk menjalani kemoterapi target guna menghambat penyebaran penyakitnya.
Warisan di Luar Lapangan Basket
Komisioner NBA, Adam Silver, memberikan penghormatan mendalam atas kepergian Collins. Ia menyebut pengaruh Collins melampaui dunia basket.
“Dampak dan pengaruh Jason meluas jauh melampaui bola basket karena ia membantu menjadikan NBA, WNBA, dan komunitas olahraga yang lebih luas menjadi lebih inklusif dan ramah bagi generasi mendatang,” ujar Adam Silver. “Jason akan diingat bukan hanya karena mendobrak batasan, tetapi juga karena kebaikan dan kemanusiaan yang mendefinisikan hidupnya.”
Pada Desember 2025, Collins sempat menceritakan bagaimana tumor otak tersebut ditemukan setelah ia kesulitan untuk fokus. Ia menggambarkan penyakitnya seperti “monster dengan tentakel yang menyebar di bawah otak dengan lebar sebesar bola bisbol.”
Keberanian Menjadi Diri Sendiri
Bagi Collins, perjuangannya melawan kanker mengingatkannya pada keputusan besarnya untuk coming out tahun 2013 melalui cerita sampul di majalah Sports Illustrated. Saat itu, ia menulis kalimat ikonik: “Saya adalah center NBA berusia 34 tahun. Saya hitam dan saya gay.”
Keputusan tersebut ia sebut sebagai awal dari tahun-tahun terbaik dalam hidupnya.
“Hidup Anda jauh lebih baik ketika Anda tampil sebagai diri sendiri yang sebenarnya, tanpa rasa takut untuk menjadi diri sendiri yang sebenarnya, baik di depan umum maupun secara pribadi. Inilah saya. Inilah yang sedang saya hadapi,” ungkap Collins saat mengungkapkan diagnosis kankernya.
Karier Gemilang
Lulusan Stanford University ini menjalani 13 musim di NBA dan bermain untuk enam tim berbeda, termasuk mengawali kariernya di New Jersey Nets. Ia menjadi sosok vital yang membawa Nets meraih gelar juara Wilayah Timur berturut-turut pada 2002 dan 2003.
Pihak Brooklyn Nets menyatakan rasa duka yang mendalam atas kepergian sang legenda. Mereka mengenang Collins bukan hanya sebagai kompetitor yang tangguh, tetapi sebagai pribadi yang bijaksana dan mampu menyatukan orang-orang di sekitarnya.
Mengenal Glioblastoma
Glioblastoma (GBM) adalah jenis kanker otak agresif yang tumbuh dari sel astrosit, yaitu sel yang mendukung sel saraf. Menurut Mayo Clinic, GBM adalah tumor otak ganas yang paling umum menyerang orang dewasa. Gejalanya meliputi kejang hingga perubahan cara berpikir, bicara, dan keseimbangan. Meskipun pengobatan dapat memperlambat pertumbuhan tumor, hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkannya secara total.
Kepergian Jason Collins meninggalkan duka mendalam bagi dunia olahraga, namun keberaniannya untuk hidup autentik tetap menjadi inspirasi bagi banyak orang di seluruh dunia. (BBC/Z-2)
