
INDOSAT Ooredoo Hutchison (IOH) masuk dalam daftar perdana Fortune 100 Best Companies to Work For™ Southeast Asia yang dirilis Great Place To Work® (GPTW) ASEAN & ANZ bersama majalah Fortune. Pencapaian tersebut menjadi pengakuan regional terhadap budaya kerja dan strategi pengelolaan sumber daya manusia perusahaan di tengah proses merger besar yang dijalani dalam beberapa tahun terakhir.
Pemeringkatan itu melibatkan lebih dari 550 ribu karyawan di 10 negara Asia Tenggara, dengan lebih dari 1,3 juta pekerja diminta menilai tingkat kepercayaan, keadilan, dan dukungan di lingkungan kerja mereka melalui survei rahasia Trust Index™ milik GPTW.
Dari Indonesia, IOH menjadi salah satu dari dua perusahaan yang berhasil masuk daftar tersebut. Pengakuan itu dinilai signifikan karena perusahaan baru saja melewati proses integrasi pasca-merger yang umumnya identik dengan tingginya tingkat pengunduran diri dan gejolak organisasi.
Namun, IOH mencatat tingkat retensi talenta strategis tetap terjaga di tengah restrukturisasi perusahaan, seiring pertumbuhan EBITDA yang tetap positif. SVP Head of People & Culture IOH Lisa Qonita mengatakan perusahaan melakukan pendekatan kesejahteraan karyawan yang lebih terintegrasi dan disesuaikan dengan konteks budaya kerja di Asia Tenggara.
“Kami menyebutnya sebagai dukungan kesehatan mental, saat itu tingkat partisipasinya terbatas karena adanya stigma. Begitu kami memposisikannya sebagai instrumen peningkatan kinerja dan manajemen energi, maka tingkat partisipasi karyawan pun meningkat,” ucap Lisa dikutip dari siaran pers yang diterima, Rabu (13/5).
Menurut dia, perusahaan tidak hanya fokus pada program kesejahteraan mental, tetapi juga membangun sistem komunikasi dan keterlibatan karyawan yang lebih terbuka selama proses transformasi perusahaan berlangsung.
IOH menunjuk perwakilan karyawan di setiap direktorat untuk terlibat aktif dalam berbagai program perusahaan, termasuk forum town hall terbuka, platform wellness, hingga aktivitas lintas fungsi guna menjaga kohesi organisasi.
“Kami menempatkan karyawan sebagai pusat bisnis. Investasi untuk kesejahteraan disesuaikan dengan kebutuhan mereka dan dampaknya kami pantau secara berkala terhadap performa bisnis dan stabilitas SDM,” kata Lisa.
Sementara itu, Managing Director Great Place To Work® ASEAN dan ANZ Evelyn Kwek mengatakan perusahaan-perusahaan yang masuk daftar tersebut umumnya berhasil membangun rasa aman secara psikologis di lingkungan kerja sehingga karyawan merasa nyaman memanfaatkan berbagai program kesejahteraan yang tersedia.
“Program kesejahteraan yang mahal sekalipun justru tidak akan efektif jika karyawan tidak merasa aman untuk menggunakannya. Data kami menunjukkan bahwa kuncinya ada pada membangun budaya yang terbuka,” pungkas Evelyn. (E-4)
