Krisis Selat Hormuz: Pasar Minyak Global Hilang 100 Juta Barel Seminggu
Pabrik Aramco.(Al Jazeera)

PASAR minyak global menghadapi ancaman kelangkaan energi paling signifikan dalam sejarah. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengungkapkan bahwa dunia kehilangan pasokan sebanyak 100 juta barel minyak setiap minggu selama Selat Hormuz tetap ditutup akibat konflik di Timur Tengah.

Dalam konferensi bersama para analis, Nasser menegaskan bahwa gangguan pasokan ini melampaui skala gangguan energi mana pun yang pernah terjadi. Saat ini, kekurangan pasokan tersebut hanya bisa ditutupi oleh perusahaan dan pemerintah dengan menguras cadangan strategis mereka.

Cadangan Minyak Dunia Menipis

Nasser memperingatkan bahwa stok minyak global kini berada pada level yang sangat rendah dan berbahaya. Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa sebagian besar kapasitas produksi minyak cadangan (spare capacity) dunia berada di kawasan Teluk Persia. Ini berarti pasokan tersebut tidak dapat diakses selama blokade di Selat Hormuz berlanjut.

“Kemampuan untuk menarik cadangan inventaris selama ini menutupi kondisi pasar global yang sebenarnya sangat ketat,” ujar Nasser. Ia juga menyoroti ada ketimpangan (disconnect) antara harga minyak di pasar berjangka (futures) dengan harga fisik barel minyak yang sebenarnya.

Poin Utama Krisis Energi:

  • Kehilangan Pasokan: 100 juta barel per minggu akibat penutupan Selat Hormuz.
  • Harga Minyak: Bertahan di atas US$100 per barel pada perdagangan Senin (11/5).
  • Durasi Konflik: Krisis di Timur Tengah kini memasuki bulan ketiga tanpa tanda-tanda deeskalasi.

Kegagalan Negosiasi AS-Iran

Risiko terhadap pertumbuhan ekonomi global semakin nyata seiring melonjaknya harga energi. Hingga saat ini, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan saling menolak usulan terbaru untuk memulai kembali negosiasi yang bertujuan membuka kembali arus lalu lintas di Selat Hormuz.

Tanpa ada resolusi atas blokade tersebut, pasar minyak diprediksi akan mengalami guncangan yang lebih hebat pada Mei dan Juni. Nasser mengkritik kurangnya investasi dalam produksi minyak di luar Timur Tengah yang membuat pasar dunia tidak siap menghadapi kejutan pasokan seperti saat ini.

“Kekurangan pasokan akan menjadi jauh lebih nyata pada Mei dan Juni. Jika krisis ini terus berlanjut, penyeimbangan kembali pasar minyak dunia kemungkinan baru akan terjadi pada tahun depan,” pungkasnya.

Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi energi akan menyeret turun pertumbuhan ekonomi global secara berkepanjangan, mengingat ketergantungan dunia yang masih sangat tinggi pada jalur distribusi energi di Timur Tengah. (Bloomberg/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *