
KECERDASAN Buatan (AI) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, hingga berbelanja. Meski remaja masa kini semakin akrab dengan alat-alat AI untuk membantu tugas sekolah maupun pemrograman, sebuah studi terbaru menunjukkan tidak semua siswa melangkah ke masa depan teknologi ini dengan tingkat kepercayaan diri yang sama.
Penelitian yang dilakukan tim dari Qatar University Young Scientists Center menemukan adanya kesenjangan gender dalam pendidikan AI. Hasil studi menunjukkan siswa laki-laki cenderung menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan siswi dalam mata pelajaran terkait AI. Hal ini bukan disebabkan perbedaan kemampuan kognitif, melainkan karena siswa laki-laki memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam menggunakan teknologi tersebut.
Dr. Zubair Ahmad, yang memimpin penelitian ini, menekankan pentingnya membekali generasi muda dengan keterampilan AI agar mampu berkembang di masa depan. Namun, ia mencatat adanya kendala mendasar.
“Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa siswa sering kali kesulitan menguasai dasar-dasar konsep AI. Kami ingin mengetahui alasannya,” ujar Dr. Ahmad.
Pentingnya Faktor Kepercayaan Diri
Studi ini melibatkan 743 siswa sekolah menengah di Qatar dengan rentang usia 15 hingga 18 tahun. Para peneliti menemukan hubungan yang sangat kuat antara keyakinan diri dengan hasil belajar.
“Kami menemukan bahwa siswa yang percaya pada kemampuan mereka untuk mempelajari dan menggunakan AI cenderung berprestasi lebih baik. Hubungan antara kepercayaan diri dan hasil belajar ini jauh lebih kuat pada siswa laki-laki dibandingkan perempuan,” jelas Dr. Ahmad.
Dukungan dari sekolah, termasuk kegiatan praktik langsung dan bimbingan guru, terbukti memberikan dampak positif. Namun, efek dukungan ini kembali terlihat lebih signifikan pada siswa laki-laki. Peneliti menduga bahwa kepercayaan diri memengaruhi cara siswa bereaksi saat menghadapi materi yang sulit. Siswa yang merasa mampu akan terus mencoba, sementara yang ragu cenderung menarik diri.
Stereotip dan Gaya Mengajar
Ada beberapa alasan mengapa siswi cenderung kurang percaya diri dalam bidang ini. Menurut Dr. Ahmad, persepsi teknologi dan AI adalah domain yang didominasi laki-laki sangat memengaruhi keterlibatan siswa perempuan.
“Akibatnya, siswa perempuan mungkin memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah terhadap kemampuan mereka atau lebih kecil kemungkinannya untuk bereksperimen dengan alat AI,” tambahnya.
Selain faktor sosial, gaya mengajar di kelas juga memegang peranan penting. Beberapa siswa membutuhkan struktur pelajaran yang sangat teratur, sementara yang lain lebih berkembang melalui bimbingan ringan dan kebebasan bereksplorasi.
Membangun Ekosistem yang Inklusif
Untuk mengatasi kesenjangan ini, para peneliti merekomendasikan agar pendidikan AI dimulai lebih awal, bahkan sejak sekolah dasar. Pembelajaran juga harus diubah dari sekadar ceramah pasif menjadi pemecahan masalah dunia nyata secara aktif.
Dr. Ahmad juga menekankan perlunya dukungan khusus bagi siswi, salah satunya dengan menghadirkan lebih banyak mentor perempuan di bidang AI sebagai teladan (role model).
“Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah melalui apa yang kami sebut sebagai praktik terbimbing,” ungkapnya. Guru dapat mendemonstrasikan penggunaan alat AI, membiarkan siswa berlatih dengan bimbingan, lalu secara bertahap mengurangi bantuan seiring meningkatnya kemahiran siswa.
“Pendekatan seperti ini akan memastikan bahwa siswa, khususnya perempuan, merasa didukung sepanjang proses pembelajaran. Ini membangun keterampilan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri,” pungkas Dr. Ahmad. (Earth/Z-2)
