Krisis Air dan Perubahan Iklim Ancam Peradaban, Guru Besar UI Tekankan Pentingnya Langkah Preventif Terpadu
Firdaus Ali(Dok UI)

UNIVERSITAS Indonesia (UI) resmi mengukuhkan Prof Firdaus Ali sebagai Guru Besar Tetap di bidang Rekayasa dan Inovasi Pengelolaan Air, Fakultas Teknik. Prosesi pengukuhan berlangsung di Makara Art Center pada Rabu (6/5), dengan kehadiran Pramono Anung Wibowo selaku Gubernur DKI Jakarta dan Rano Karno sebagai Wakil Gubernur.

Dalam pidato ilmiah bertajuk “Krisis Iklim, Ketahanan Air dan Daya Dukung Lingkungan: Tantangan Kritis Peradaban Kota Modern”, Prof. Firdaus menegaskan bahwa air memiliki peran mendasar dalam menopang peradaban sekaligus menjadi indikator batas kemampuan lingkungan. Ia menjelaskan bahwa sejak dahulu, pusat-pusat peradaban berkembang di wilayah dengan sistem pengelolaan air yang baik, namun kondisi tersebut kini menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim dan lonjakan jumlah penduduk dunia.

“Meskipun 71% permukaan bumi tertutup air, hanya kurang dari 1% yang dapat diakses langsung sebagai air tawar untuk kebutuhan manusia. Jumlah ini tidak bertambah sejak awal peradaban, sementara populasi dunia telah mencapai hampir 8,3 miliar jiwa,” ujarnya.

Dalam kerangka planetary boundaries, air menjadi indikator krusial bagi keberlanjutan kehidupan. Sejumlah wilayah bahkan telah melewati batas aman dalam pemanfaatan sumber daya air. Situasi ini semakin kompleks seiring meningkatnya urbanisasi global, di mana lebih dari separuh populasi dunia kini tinggal di kawasan perkotaan, dan diproyeksikan terus meningkat hingga 68% pada tahun 2050.

Kondisi di Indonesia juga menunjukkan tekanan yang signifikan. Konsumsi air rumah tangga di kota-kota besar mencapai 140–180 liter per orang setiap hari, melebihi kebutuhan dasar. Secara global, lebih dari 2 miliar orang tinggal di daerah dengan risiko kekurangan air, sementara sekitar 4 miliar orang mengalami krisis air berat setidaknya selama satu bulan dalam setahun.

Perkembangan kota yang pesat turut mengganggu sistem hidrologi alami. Perubahan fungsi lahan mengurangi kemampuan tanah menyerap air dan meningkatkan limpasan permukaan, sehingga memperbesar potensi banjir. Ketergantungan tinggi terhadap air tanah juga memperburuk kondisi, karena eksploitasi berlebih dapat menyebabkan penurunan permukaan tanah, meningkatkan risiko banjir, serta mempercepat intrusi air laut di wilayah pesisir.

Dampak perubahan iklim semakin memperberat situasi tersebut. Variasi pola hujan, meningkatnya intensitas hujan ekstrem, serta periode kekeringan yang lebih panjang menyebabkan bencana terkait air menjadi lebih sering dan berdampak besar. Secara global, lebih dari 80% bencana alam berkaitan dengan air, dengan kawasan Asia sebagai wilayah yang paling terdampak.

Melihat kompleksitas tersebut, Prof. Firdaus menilai pendekatan parsial sudah tidak relevan. Ia menekankan pentingnya strategi ketahanan wilayah yang terintegrasi, mencakup aspek lingkungan, sosial, ekonomi, tata kelola, hingga penegakan hukum. Pembangunan infrastruktur besar seperti tanggul laut dinilai penting, terutama untuk kota pesisir, namun harus diimbangi dengan pengelolaan menyeluruh dari hulu hingga hilir.

Kemajuan teknologi juga membuka peluang baru dalam pengelolaan air. Pemanfaatan big data dan kecerdasan buatan dinilai mampu meningkatkan akurasi prediksi bencana. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi harus didukung oleh sistem tata kelola yang kuat dan konsisten.

“Pendekatan preventif menjadi kunci utama. Berbagai studi menunjukkan investasi sekitar 1% dari nilai ekonomi wilayah untuk pencegahan dapat menekan kerugian akibat bencana secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa ketahanan air bukan sekadar isu teknis, melainkan investasi strategis bagi keberlanjutan pembangunan,” kata Prof. Firdaus.

Sebagai pakar di bidang teknik lingkungan, Prof. Firdaus memiliki spesialisasi dalam rekayasa pengelolaan air, pengolahan limbah, serta penguatan sistem ketahanan air perkotaan. Ia menempuh pendidikan Sarjana Teknik Lingkungan di Institut Teknologi Bandung pada 1988, lalu melanjutkan studi magister dan doktoral di University of Wisconsin–Madison dengan fokus pada teknologi pengolahan air tanah tercemar.

Selain berkiprah sebagai akademisi di UI sejak 1988, ia juga aktif dalam perumusan kebijakan strategis nasional, termasuk sebagai Staf Khusus Menteri PUPR bidang sumber daya air (2019–2024) dan kini menjabat sebagai Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta. Ia juga mendirikan Indonesia Water Institute serta berpartisipasi dalam berbagai forum global seperti Asia Water Council dan International Water Resources Association.

Kontribusinya juga terlihat melalui berbagai inovasi, seperti gagasan Giant Sea Wall Jakarta dan pengembangan metode pemetaan wilayah rawan air berbasis Water Stress Index, serta sejumlah publikasi ilmiah di jurnal internasional.

Melalui pengalaman dan kontribusi ilmiahnya, Prof. Firdaus berharap dapat terus mendorong lahirnya inovasi berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sumber daya air, memperkuat ketahanan kota terhadap bencana, serta menghasilkan kebijakan publik yang lebih adaptif dan berbasis ilmu pengetahuan. (Put)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *