El Nino Berpotensi Tingkatkan Konflik Manusia dan Satwa
Satu individu orangutan morio (Pongo pygmaeus morio) berada di kawasan Pusat Rehabilitasi Samboja Lestari, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu (29/4/2026). Berdasarkan data Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), kawasan konservasi selua(ANTARA FOTO/Angga Palguna/kye)

FENOMENA El Nino akibat perubahan iklim berpotensi memicu krisis ekologis di Indonesia, mulai dari terganggunya habitat satwa liar hingga meningkatnya konflik antara manusia dan satwa. 

Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Dr Abdul Haris Mustari menjelaskan bahwa El Nino menyebabkan penurunan curah hujan yang signifikan sehingga memicu kemarau panjang dan kondisi lingkungan yang lebih kering.

Dampak El Nino, kata dia, tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga sangat memengaruhi kehidupan satwa liar di habitat alaminya. 

“Secara langsung, peningkatan suhu lingkungan dan kekeringan menyebabkan berkurangnya ketersediaan pakan dan air bagi satwa liar,” kata Mustari dikutip dari laman IPB University, Kamis (30/4).

Ia menambahkan turunnya produktivitas tumbuhan pakan seperti buah, daun, hingga tumbuhan bawah akan berdampak pada kelangsungan hidup satwa. Akibat keterbatasan sumber daya tersebut, banyak satwa liar terpaksa memperluas wilayah jelajahnya. 

“Satwa dapat keluar dari habitat hutan menuju area perkebunan bahkan permukiman manusia untuk mencari makan dan air. Kondisi ini meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar,” terang Dr Mustari.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa terganggunya habitat juga berdampak pada keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Kebakaran hutan yang kerap terjadi saat kemarau panjang memperparah situasi dengan menghancurkan habitat, mengurangi populasi satwa, serta mengganggu proses reproduksi dan penyebaran biji tanaman.

“Ketika rantai makanan terganggu dan regenerasi hutan terhambat, maka keseimbangan ekosistem akan ikut terguncang,” jelasnya.

Kondisi itu, lanjut Mustari, dapat berdampak jangka panjang terhadap keberlanjutan keanekaragaman hayati. Terkait meningkatnya interaksi satwa liar dengan manusia, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak bertindak gegabah. 

Ia menyarankan agar keberadaan satwa segera dilaporkan kepada pihak berwenang seperti aparat setempat dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Dalam situasi darurat, satwa dapat diusir secara aman menggunakan alat sederhana tanpa melukai atau membunuhnya.

Sebagai langkah pencegahan, Mustari menegaskan pentingnya menjaga kelestarian habitat alami satwa. Ia menyampaikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan tokoh lokal sangat diperlukan untuk mencegah kerusakan hutan serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya ekosistem. “Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan secara keseluruhan. Kepunahan satu spesies dapat berdampak pada hilangnya keseimbangan kehidupan lainnya, termasuk manusia,” tukasnya.  (H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *