
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi musim kemarau panjang di wilayah Papua Pegunungan. Durasi kemarau diperkirakan berlangsung tiga hingga lima bulan, dengan puncak kondisi kering diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena, Laura SM Runggeari, menyampaikan bahwa awal kemarau diperkirakan mulai masuk pada dasarian ketiga Mei 2026.
“Periode kemarau diprediksi berlangsung antara tiga hingga lima bulan. Puncaknya kemungkinan terjadi pada Agustus,” ujarnya dilansir dari Antara, Senin (20/4).
Warga Diminta Siaga Sejak Dini
BMKG mengingatkan masyarakat di Papua Pegunungan, khususnya Kabupaten Jayawijaya, untuk tidak menganggap remeh kondisi ini. Persiapan sejak awal dinilai penting guna mencegah dampak yang lebih luas, terutama terkait ketersediaan air dan aktivitas harian.
“Warga diharapkan bisa mengantisipasi kondisi ini dengan baik agar tidak menimbulkan masalah di tengah masyarakat,” kata Laura.
Selain musim kemarau, Papua Pegunungan juga diprediksi akan terdampak fenomena El Nino. Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa pengaruhnya relatif lemah dibandingkan wilayah lain di Indonesia.
“Dampaknya tidak terlalu kuat, namun masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan,” jelasnya.
BMKG juga memastikan akan terus memperbarui informasi terkait perkembangan El Nino dan kondisi cuaca terbaru agar masyarakat dapat mengambil langkah antisipatif secara tepat.
Dengan potensi kemarau yang cukup panjang, langkah adaptasi menjadi kunci. Pengelolaan sumber daya air, kesiapan sektor pertanian, serta kewaspadaan terhadap potensi kekeringan menjadi perhatian utama dalam menghadapi periode ini. (Ant/Z-10)
