
KELOMPOK Hizbullah secara tegas menyatakan penolakan terhadap rencana negosiasi langsung antara Libanon dan Israel. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas langkah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mulai membuka pintu diplomasi bagi kedua negara yang tengah bertikai tersebut.
Anggota parlemen dari faksi Hizbullah, Ali Fayyad, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberikan ruang bagi pembicaraan langsung dengan pihak yang mereka sebut sebagai musuh. Menurutnya, kondisi saat ini tidak memungkinkan bagi pemerintah Libanon untuk masuk ke meja perundingan.
“Kami menegaskan kembali penolakan kami terhadap negosiasi langsung antara Libanon dan musuh Israel,” ujar Fayyad dalam pernyataan resminya, Jumat (10/4).
Syarat Utama: Penarikan Pasukan
Hizbullah mendesak agar pemerintah Libanon tetap berpegang pada prinsip nasional. Fayyad menekankan bahwa sebelum pembicaraan apa pun dimulai, Israel harus terlebih dahulu menghentikan seluruh aksi militer dan menarik pasukannya dari wilayah kedaulatan Libanon.
Fayyad juga menambahkan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan implementasi kesepakatan gencatan senjata secara penuh. Hal ini bertujuan agar penduduk yang mengungsi dapat segera kembali ke desa dan kota asal mereka dengan aman.
Ambisi Netanyahu: Pelucutan Senjata Hizbullah
Di sisi lain, kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan kesiapan untuk memulai jalur diplomasi. Netanyahu mengklaim bahwa instruksi kepada kabinetnya untuk memulai negosiasi didasari oleh adanya permintaan berulang dari pihak Libanon.
Namun, agenda yang diusung Israel dalam negosiasi tersebut sangat kontras dengan posisi Hizbullah. Israel menargetkan pelucutan senjata kelompok tersebut sebagai poin utama dalam membangun hubungan damai.
Berikut adalah perbandingan poin utama dari kedua belah pihak terkait rencana negosiasi tersebut:
| Aspek | Posisi Hizbullah (Ali Fayyad) | Posisi Israel (Benjamin Netanyahu) |
|---|---|---|
| Sikap Negosiasi | Menolak tegas negosiasi langsung. | Menginstruksikan kabinet untuk segera memulai dialog. |
| Syarat Utama | Penarikan pasukan Israel & penghentian permusuhan. | Pelucutan senjata Hizbullah & demiliterisasi Beirut. |
| Tujuan Akhir | Kedaulatan nasional & kembalinya pengungsi. | Membangun hubungan damai bilateral. |
Ketajaman perbedaan sikap ini menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian di perbatasan Israel-Libanon masih sangat terjal. Di tengah tekanan internasional untuk meredakan ketegangan, benturan kepentingan antara kedaulatan teritorial yang dituntut Hizbullah dan tuntutan keamanan yang diajukan Israel menjadi hambatan besar bagi proses diplomasi di kawasan tersebut. (Z-1)
