
SEBANYAK 75 anak muda di Kota Bandung terlibat dalam program Generasi untuk Bumi yang mendorong pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi. Program yang digagas tim Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) itu memperkenalkan praktik ekonomi sirkular melalui pengolahan sampah organik, penyelamatan pangan, pemanfaatan botol plastik bekas, hingga pendidikan lingkungan bagi anak-anak.
Kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa SBM ITB dengan anak muda di sekitar Teras Hijau Project (THP), Sukaraja, Kota Bandung. Program dikembangkan melalui empat proyek, yakni AMETHA, Food Rescue, DARANI, dan Kid’s Green Game.
Ketua Pengabdian Masyarakat SBM ITB Generasi untuk Bumi, Melia Famiola, mengatakan program tersebut tidak hanya mengajak peserta memilah atau membersihkan sampah. Peserta juga didorong memahami bagaimana material dapat dicegah menjadi sampah, diolah kembali, dan dikembangkan menjadi produk baru.
“Hingga Agustus 2026, sedikitnya 1,5 ton sampah organik telah diolah menjadi eco-enzyme. Dari hasil pengolahan tersebut, sekitar 35 liter produk sabun telah dihasilkan,” kata Melia.
Menurut dia, kegiatan melalui proyek AMETHA menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan pemanfaatan sampah organik secara lebih luas. Peserta tidak hanya belajar mengolah limbah, tetapi juga mengembangkan hasil olahan menjadi produk yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Persoalannya bukan hanya berapa kilogram sampah yang berhasil dikurangi, tetapi nilai baru apa yang dapat diciptakan dari material tersebut,” ujarnya.
Pendekatan serupa diterapkan melalui proyek Food Rescue. Dalam kegiatan ini, mahasiswa bersama masyarakat menyelamatkan bahan pangan yang masih layak konsumsi, tetapi berpotensi terbuang.
Hingga laporan kemajuan program disusun, sekitar 25 kilogram bahan pangan berhasil diselamatkan. Sebagian bahan tersebut kemudian diolah menjadi produk baru, termasuk selai buah.
Melia mengatakan Food Rescue mengajarkan prinsip pencegahan sampah sejak sebelum bahan pangan berakhir di tempat pembuangan. “Solusi terhadap persoalan sampah tidak selalu dilakukan setelah sesuatu menjadi sampah. Pencegahan dapat dimulai ketika material atau bahan pangan masih memiliki nilai dan manfaat,” katanya.
Sementara itu, proyek DARANI berfokus pada pengembangan produk kerajinan dari botol plastik bekas. Dalam program tersebut, mahasiswa bekerja bersama pelaku usaha lokal untuk mengembangkan alternatif desain dan meningkatkan nilai jual produk.
Mahasiswa tidak mengambil alih usaha yang telah dijalankan masyarakat, melainkan memberikan pendampingan dalam pengembangan desain agar produk dari botol plastik bekas memiliki fungsi dan peluang pasar yang lebih baik.
“Produk ramah lingkungan tidak cukup hanya memiliki cerita bahwa produk itu berasal dari sampah. Produk juga harus memiliki desain, fungsi, kualitas, dan nilai yang membuat konsumen tertarik menggunakannya,” ujar Melia.
PENERAPAN EKONOMI SIRKULAR
Ia menambahkan, pemanfaatan kembali botol plastik menjadi produk kerajinan merupakan bagian dari penerapan ekonomi sirkular. Material yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah diperpanjang masa pakai dan nilainya melalui kreativitas serta inovasi desain.
Selain menyasar anak muda, Generasi untuk Bumi juga memperkenalkan pendidikan lingkungan kepada anak-anak melalui program Kid’s Green Game. Mahasiswa merancang permainan dan aktivitas edukatif bagi anak-anak yang belajar di sekolah berbayar sampah milik Teras Hijau Project. Sekolah tersebut memberikan akses pendidikan bagi anak usia dini dengan mekanisme kontribusi berupa sampah yang dapat dikelola oleh THP.
Melalui permainan, anak-anak diperkenalkan pada kebiasaan menjaga lingkungan sejak usia dini. Materi mengenai sampah dan keberlanjutan dikemas dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami. “Tujuannya agar kebiasaan menjaga lingkungan dapat dibangun sejak dini dan tidak harus menunggu seseorang menjadi dewasa,” kata Melia.
Program Generasi untuk Bumi juga mulai mengembangkan aspek pemasaran produk berbasis ekonomi sirkular. SBM ITB membantu Teras Hijau Project membangun kanal pasar daring untuk memperluas jangkauan konsumen.
Ke depan, program tersebut akan mendorong pengujian pasar secara luring dan memberikan pelatihan kepada anak-anak muda setempat agar dapat terlibat sebagai agen penjualan produk THP.
Melia mengatakan langkah tersebut penting agar program tidak berhenti pada edukasi lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat dan generasi muda.
“Tantangan produk berbasis ekonomi sirkular adalah membawa produk dari tingkat komunitas hingga dapat diterima pasar. Karena itu, pengembangan akses pasar menjadi bagian penting dari program ini,” ujarnya.
TERAS HIJAU PROJECT
Teras Hijau Project sendiri dikembangkan sebagai laboratorium hidup berbasis komunitas dengan konsep Kampung Sirkular. Ekosistem tersebut menghubungkan pengelolaan sampah, ketahanan pangan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan penciptaan aktivitas ekonomi.
Menurut Melia, keterlibatan 75 mahasiswa dan pemuda dalam Generasi untuk Bumi diharapkan dapat memperkuat regenerasi pelaku ekonomi sirkular.
“Mereka tidak hanya belajar konsep di ruang kelas, tetapi terlibat langsung dalam mengolah material, mengembangkan produk, mendesain, mengedukasi anak-anak, hingga mencari peluang pasar,” tandasnya.
Melalui program tersebut, sampah tidak lagi semata dipandang sebagai persoalan lingkungan. Material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai didorong untuk kembali masuk ke dalam siklus pemanfaatan melalui inovasi dan kreativitas generasi muda. (E-2)
