
RIBUAN petani bawang merah di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, kini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah dihantam penurunan harga jual yang signifikan dibandingkan tahun lalu, mereka kini harus menghadapi persoalan baru berupa rendahnya hasil produksi panen.
Fenomena risiko bertani yang datang bertubi-tubi ini membuat para petani terancam merugi dan mulai kehilangan semangat. Kondisi ini sangat memukul mereka yang selama ini hanya menggantungkan nafkah keluarga dari hasil pertanian.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia selama tiga hari terakhir di Kecamatan Simpang Tiga–salah satu sentra produksi bawang merah di Pidie–terjadi penurunan produktivitas yang cukup tajam. Jika biasanya hasil panen mencapai rasio 1 banding 20 hingga 25 (1 kilogram benih menghasilkan 20-25 kg bawang), saat ini merosot menjadi hanya 1 banding 15 kg.
Anjloknya produktivitas ini menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi petani setempat. Beban mereka semakin berat karena harga jual di tingkat pasar juga terjun bebas. Jika tahun lalu harga bawang merah mencapai Rp40.000 per kg, saat ini hanya berkisar antara Rp21.000 hingga Rp23.000 per kg.
“Musim panen tahun lalu hasil produksi mencapai kisaran 1 kilogram benih menjadi sekitar 20-25 kilogram hasil panen. Sekarang turun, hanya menghasilkan 1 banding 15 kilogram. Harga juga anjlok dari Rp40.000 menjadi Rp21.000-Rp23.000 per kilogram,” ujar Hanifah, seorang petani di Desa Pulo Blang, Kecamatan Simpang Tiga, Sabtu (29/8).
Kombinasi antara rendahnya hasil panen dan jatuhnya harga di tingkat tengkulak membuat petani khawatir tidak mampu menutupi biaya operasional. Apalagi, biaya produksi dan ongkos kerja yang mereka keluarkan tahun ini justru lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
“Dulu hasil produksi lebih tinggi dan harga bawang pun lebih mahal, sehingga keuntungan kami sangat menggembirakan. Sedangkan sekarang hasil panen rendah, ditambah lagi harga anjlok. Kami sangat khawatir modal tidak kembali atau hanya pas-pasan saja,” keluh Syukrizal, petani lainnya.
Kabupaten Pidie merupakan kawasan sentra produksi bawang merah utama di Provinsi Aceh. Lahan pertanian bawang merah di wilayah ini tersebar di beberapa kecamatan yang berdekatan dengan pesisir Selat Malaka, meliputi Kecamatan Simpang Tiga, Kembang Tanjong, Batee, Muara Tiga, Peukan Baro, dan Kecamatan Pidie.
Di Kecamatan Simpang Tiga sendiri, tercatat sedikitnya ada sekitar 250 hektare lahan bawang merah yang sedang dalam masa pertumbuhan dan sebagian sudah mulai memasuki masa panen. Meski para petani setempat dikenal memiliki pengalaman mumpuni dalam budidaya bawang merah, faktor eksternal harga dan penurunan hasil produksi kali ini menjadi tantangan yang sulit dibendung. (I-2)
