
ADA cara sederhana untuk melihat kota tumbuh. Lihat jalan yang dilalui masyarakat setiap hari, lihat aktivitas industri yang semakin hidup, lihat investasi yang masuk, dan yang paling penting, lihat apakah pertumbuhan itu menciptakan kesempatan baru bagi masyarakat.
Di Batam, pertumbuhan tersebut sedang bergerak dalam satu arah: infrastruktur diperkuat, investasi dikebut, dan ekonomi terus didorong agar manfaatnya semakin nyata. Di balik proses itu, sosok Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra tampil dengan pendekatan kepemimpinan yang tidak hanya bekerja dari balik meja.
Keduanya dikenal aktif turun ke lapangan, melihat langsung kondisi infrastruktur, mendengarkan persoalan, sekaligus memastikan pekerjaan yang dilakukan benar-benar menjawab kebutuhan Batam. Bagi Amsakar, pembangunan bukan sekadar tentang menyelesaikan proyek. Ada tanggung jawab untuk memastikan setiap pekerjaan memiliki manfaat dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kita tidak boleh berhenti pada angka. Yang paling penting adalah bagaimana investasi ini terus bergerak, proyeknya terealisasi, lapangan kerja tercipta, industri berkembang, dan memberikan multiplier effect bagi ekonomi Batam.” Pesan tersebut menjadi benang merah dalam arah pembangunan Batam.

Turun Melihat, Turun Memastikan
Pertumbuhan ekonomi membutuhkan fondasi yang kuat. Salah satunya ialah infrastruktur. Karena itu, pembangunan dan perbaikan jalan menjadi bagian penting dalam menjaga denyut aktivitas Batam sebagai kota industri, perdagangan, jasa dan investasi.
Hingga 3 Agustus 2026, sebanyak 12 dari 19 pekerjaan perbaikan jalan telah selesai 100 persen. Sejumlah titik prioritas dituntaskan, antara lain Jalan Gajah Mada depan Southlink, ruas dekat Jembatan Sei Ladi, jalan di atas Underpass Yos Sudarso, serta kawasan Volex.
Pekerjaan juga tidak berhenti pada badan jalan. Penataan drainase menjadi bagian penting agar infrastruktur lebih berfungsi dan potensi genangan dapat ditekan.
Pada skala yang lebih besar, peningkatan Jalan Gajah Mada segmen Landing Point Fly Over-Simpang Lalan Madani hingga 24 Agustus 2026 mencapai 39,194 persen. Jalan tersebut akan diperlebar menjadi dua jalur dengan masing-masing sisi memiliki tiga lajur.
Infrastruktur seperti ini bukan hanya soal beton, aspal, atau pelebaran jalan. Di baliknya ada mobilitas pekerja, distribusi barang, aktivitas industri, perjalanan masyarakat, hingga daya saing investasi Batam.
Amsakar memastikan percepatan pembangunan tetap berjalan dengan memperhatikan mutu dan keselamatan. “Percepatan dilakukan secara terukur tanpa mengabaikan aspek mutu dan keselamatan pekerjaan.”
Karakter kepemimpinan inilah yang terus ditunjukkan: turun melihat persoalan, mendengar kebutuhan, kemudian memastikan pekerjaan bergerak.
Li Claudia: Tegas pada Aturan, Dekat dengan Masyarakat
Di sisi lain, sosok Li Claudia Chandra memberikan warna tersendiri dalam kepemimpinan Batam. Sebagai perempuan pertama yang memimpin Batam bersama Kepala BP Batam, Li Claudia dikenal tegas ketika berbicara mengenai aturan, pelayanan dan kepentingan pembangunan. Namun ketegasan itu berjalan beriringan dengan pendekatan yang dekat dengan masyarakat.
Ia tak segan turun ke lapangan. Melihat langsung kondisi infrastruktur. Berdialog dengan masyarakat. Mendengarkan keluhan. Dan pada berbagai kesempatan, menunjukkan sisi humanisnya ketika berinteraksi dengan emak-emak maupun anak-anak.
Bagi Li Claudia, pembangunan tidak boleh kehilangan sentuhan kemanusiaan. “Kami ingin Batam menjadi tempat yang memberikan kepastian untuk tumbuh, ruang bagi dunia usaha untuk berkembang, sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.”
Ketegasan terhadap aturan dan kedekatan dengan masyarakat menjadi dua sisi yang saling melengkapi. Sebab pembangunan membutuhkan aturan yang jelas untuk menciptakan kepastian. Tetapi pembangunan juga membutuhkan pemimpin yang memahami apa yang dirasakan masyarakat di lapangan.

Ketika Kepercayaan Menjadi Aktivitas Ekonomi
Fondasi infrastruktur tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan investasi. Berdasarkan metode bottom-up BP Batam, investasi Batam pada semester I 2026 mencapai Rp38,97 triliun atau 55,67 persen dari target investasi 2026 sebesar Rp70 triliun. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, capaian tersebut tumbuh 62,75 persen.
Sementara berdasarkan LKPM, realisasi investasi semester I mencapai Rp29,89 triliun terdiri atas PMA sebesar Rp17,80 triliun dan PMDN sebesar Rp12,09 triliun. Namun bagi Amsakar-Li Claudia, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada nilai investasi.
Pertanyaan berikutnya yaitu apa yang terjadi setelah modal masuk? Jawabannya mulai terlihat dari bertambahnya kesempatan kerja.
Jumlah tenaga kerja yang tercatat pada semester I 2026 mencapai 40.943 orang, meningkat dari 30.979 orang pada periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, terdapat tambahan 9.964 tenaga kerja, dengan pertumbuhan 32,16 persen.
Angka tersebut menunjukkan bagaimana investasi mulai diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang lebih nyata. Investasi masuk. Industri bergerak. Tenaga kerja terserap. Ekonomi berputar.
Batam tidak lagi sekadar Menunggu Investor
Arah pembangunan Batam kini semakin jelas. Batam tidak cukup hanya menjadi kota yang menarik investor. Batam harus menjadi kota yang membuat investor ingin tumbuh, berekspansi dan membangun ekosistem usaha dalam jangka panjang.
Karena itu, sektor yang dikembangkan semakin beragam, mulai dari manufaktur berteknologi tinggi, digital, data center, artificial intelligence, energi, logistik internasional, kedirgantaraan, perdagangan dan keuangan internasional hingga pariwisata kesehatan.
Konektivitas menjadi pengikatnya. Infrastruktur menjadi fondasinya. Pelayanan dan kepastian berusaha menjadi penguatnya. Sedangkan investasi menjadi salah satu mesin pertumbuhannya.
Amsakar dan Li Claudia memahami bahwa Batam sedang berada pada fase penting. Persaingan antarkota dan antarnegara untuk mendapatkan investasi semakin ketat. Karena itu, kecepatan pelayanan harus diimbangi dengan kualitas infrastruktur dan kepastian.
Tidak cukup investor datang. Investor harus merasa aman untuk tumbuh.
Dari Lapangan, untuk Pertumbuhan
Pada akhirnya, kepemimpinan Amsakar-Li Claudia dapat dilihat bukan hanya dari apa yang dikatakan, tetapi dari apa yang dikerjakan. Dari pemimpin yang turun melihat jalan dan infrastruktur. Dari pekerjaan yang terus dikebut.
Dari investasi yang tumbuh. Dari ribuan tenaga kerja yang terserap. Dan dari upaya membangun ekosistem ekonomi yang semakin kompetitif.
Amsakar membawa pendekatan pembangunan yang menekankan kerja, percepatan, dan hasil. Li Claudia melengkapinya dengan ketegasan terhadap aturan sekaligus pendekatan yang dekat dengan masyarakat.
Keduanya bertemu pada satu pesan besar. Batam tidak boleh hanya tumbuh di atas kertas. Pertumbuhan harus terlihat di jalan, terasa dalam aktivitas ekonomi, hadir dalam kesempatan kerja, dan memberi harapan bagi masa depan masyarakat.
Karena itu, Rp38,97 triliun investasi semester I 2026 bukanlah garis akhir. Begitu pula jalan yang selesai dibangun bukan sekadar proyek yang dicentang.
Semua bagian dari perjalanan yang lebih besar: mengubah kepercayaan menjadi investasi, investasi menjadi industri, industri menjadi lapangan kerja, dan pertumbuhan menjadi manfaat bagi masyarakat. Inilah Batam yang sedang bergerak.
Batam yang infrastrukturnya diperkuat. Batam yang ekonominya tumbuh. Batam yang investasinya bergerak. Dan Batam yang dipimpin dengan kehadiran, bukan sekadar dari balik meja. Dari Batam, pertumbuhan nyata terus dibangun untuk Indonesia. (RO/I-2)
