
DOKTER spesialis anak subspesialis endokrinologi, Prof. Aman Bhakti Pulungan, menekankan bahwa penerapan terapi hormon pertumbuhan pada anak wajib didasarkan pada diagnosis medis yang akurat. Ia menegaskan bahwa prosedur ini tidak boleh dilakukan semata-mata hanya untuk menambah tinggi badan tanpa indikasi kesehatan yang jelas.
Dalam acara temu media daring di Jakarta, Rabu (22/7), Prof. Aman menjelaskan bahwa terapi hormon pertumbuhan sebaiknya dilakukan sedini mungkin, namun harus disesuaikan dengan penyebab spesifik dari gangguan pertumbuhan tersebut.
“Kalau memang ada gangguan pertumbuhan dan bisa diterapi, tentu anak memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan potensinya,” ujar lulusan Universitas Indonesia tersebut.
Peluang Pertumbuhan dan Pentingnya Diagnosis
Prof. Aman memaparkan bahwa tinggi badan anak masih memiliki peluang untuk bertambah hingga usia sekitar 17–18 tahun, terutama bagi mereka yang mengalami keterlambatan pubertas. Ia memberikan contoh pemain sepak bola Lamine Yamal, yang tinggi badannya masih menunjukkan pertumbuhan pada usia 17 tahun.
Bagi anak yang terdiagnosis mengalami gangguan pertumbuhan sejak masa balita, terapi hormon dapat diberikan sesuai dengan indikasi medis. Prof. Aman, yang telah berpengalaman selama 30 tahun menangani pasien terapi hormon, menggarisbawahi bahwa ketepatan diagnosis adalah kunci utama.
“Yang terpenting adalah diagnosis. Begitu penyebabnya diketahui, terapinya bisa diberikan sesuai kondisi anak,” tegasnya.
Terapi Sesuai Penyebab Spesifik
Lebih lanjut, Prof. Aman menjelaskan bahwa tidak semua anak bertubuh pendek memerlukan terapi hormon pertumbuhan. Penanganan medis harus merujuk pada masalah mendasar yang dialami anak, misalnya:
- Gangguan Hormon Tiroid: Diberikan terapi hormon tiroid.
- Kelainan Tulang: Menjalani terapi untuk memperkuat struktur tulang.
- Keterlambatan Pubertas: Menjalani terapi hormon reproduksi sesuai indikasi.
Ia juga meluruskan persepsi masyarakat yang sering kali hanya mengaitkan tubuh pendek dengan kekurangan gizi. Padahal, kondisi tersebut bisa dipicu oleh masalah hormon atau kondisi medis lainnya.
Risiko Pemberian Nutrisi Berlebihan
Sebagai peringatan bagi orang tua, Prof. Aman mengingatkan agar tidak memberikan makanan berkalori dan berprotein tinggi secara berlebihan dengan harapan anak bisa tumbuh lebih tinggi. Jika tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh, pola makan tersebut justru berdampak buruk.
Konsumsi kalori dan protein yang berlebihan tanpa pengawasan medis dapat memicu kelebihan berat badan hingga obesitas. Kondisi ini, menurutnya, justru akan mendatangkan berbagai masalah kesehatan baru bagi anak di masa depan. (Ant/H-3)
