Teknologi 3D Printing Perkuat Identitas Visual Seni Pertunjukan Indonesia
Ilustrasi(Dok Universitas Mercu Buana)

PEMANFAATAN teknologi digital membuka ruang baru bagi pengembangan seni pertunjukan Indonesia. Salah satunya melalui teknologi 3D printing untuk menghasilkan properti tari yang mendukung kreativitas sekaligus memperkuat identitas visual penari.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Program Inovasi Seni Nusantara 2026 dalam kegiatan bertajuk “Inovasi Properti Tari Berbasis 3D Printing sebagai Upaya Penguatan Identitas Visual Penari Yayasan Ayodya Pala” yang berlangsung sejak April 2026 hingga saat ini.

Kegiatan tersebut dilaksanakan Universitas Mercu Buana melalui tim yang terdiri atas Nukke Sylvia sebagai ketua, serta Ariani Kusumo Wardhani dan Engga Probi Endri sebagai anggota. Program itu menjadi upaya mengembangkan inovasi seni dengan mempertemukan kekuatan tradisi, kreativitas seniman, perkembangan teknologi, dan pendekatan akademik.

Pemanfaatan teknologi 3D printing diarahkan untuk menghasilkan properti tari yang memiliki nilai estetika sekaligus mendukung penguatan identitas visual penari Yayasan Ayodya Pala.

Properti tari merupakan salah satu elemen penting dalam membangun karakter visual pertunjukan. Selain sebagai pelengkap, properti dapat menjadi bagian dari identitas, simbol, dan ekspresi artistik penari.

Melalui teknologi 3D printing, tim Universitas Mercu Buana berupaya menghadirkan pendekatan baru dalam perancangan dan produksi properti tari. Teknologi tersebut memungkinkan proses desain dilakukan secara lebih fleksibel sehingga berbagai bentuk dan karakter visual dapat dikembangkan sesuai kebutuhan seni pertunjukan.

Ketua Pelaksana Nukke Sylvia mengatakan teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kreativitas dan identitas seni tanpa menghilangkan nilai tradisi.

“Kami melihat teknologi bukan sebagai sesuatu yang menghilangkan nilai tradisi, tetapi sebagai instrumen untuk memperkuat kreativitas dan identitas seni,” ujar Nukke.

Kegiatan tersebut melibatkan Yayasan Ayodya Pala sebagai mitra. Kolaborasi Universitas Mercu Buana dan Yayasan Ayodya Pala menjadi bagian penting untuk memastikan inovasi yang dikembangkan tidak hanya memiliki nilai teknologi, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan pelaku seni.

Perspektif akademik dan teknologi dipertemukan dengan pengalaman praktis pelaku seni. Proses perancangan properti mempertimbangkan kebutuhan penari, karakter gerakan, estetika pertunjukan, serta identitas visual yang ingin dibangun.

“Kami melihat pemanfaatan teknologi 3D printing sebagai peluang untuk mengembangkan properti tari dengan pendekatan yang lebih kreatif,” ujar Budi Agustinah.

Salah satu fokus kegiatan ialah menjadikan properti tari sebagai bagian dari identitas visual penari. Melalui pendekatan berbasis 3D printing, properti dikembangkan dengan mengeksplorasi bentuk, detail, ukuran, dan karakter visual sesuai konsep tari.

Inovasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan properti baru, tetapi juga memberikan pengalaman dan pengetahuan bagi pelaku seni dalam memanfaatkan teknologi digital.

Program Inovasi Seni Nusantara 2026 menjadi ruang untuk mendorong inovasi yang menghubungkan perguruan tinggi dengan komunitas seni. Universitas Mercu Buana melalui tim pelaksana memberikan kontribusi melalui riset, pengembangan desain, komunikasi visual, dan pemanfaatan teknologi untuk menjawab kebutuhan mitra.

Program tersebut mendapat dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi melalui Program Inovasi Seni Nusantara 2026.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan pengetahuan melalui kegiatan akademik, tetapi juga menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan ekosistem seni budaya. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *