Ini Bahaya Lemak Perut dan Risiko Penyakit Metabolik
Ilustrasi(magnific)

KETUA Umum Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, memberikan peringatan serius mengenai bahaya penumpukan lemak di rongga perut. Kondisi ini diketahui dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit metabolik berbahaya, mulai dari diabetes, gangguan kolesterol, hipertensi, hingga penyakit jantung.

Dalam peluncuran Kampanye Edukasi mengenai Obesitas #BeraniBicaraBerat di Jakarta, Jumat (19/8), Yunir menjelaskan bahwa lemak yang menumpuk di rongga perut memiliki karakteristik yang berbeda dan lebih berbahaya dibandingkan lemak di bagian tubuh lainnya.

“Lemak di rongga perut itu lebih jahat dari lemak di tempat lain. Karena dia bukan hanya lemak ngumpul terus beratnya jadi tinggi, tapi dia mengandung banyak hormon lain,” ujar Yunir, dikutip Rabu (19/8).

Ancaman Resistensi Insulin dan Inflamasi

Salah satu dampak utama dari obesitas perut adalah munculnya resistensi insulin. Meski selama ini lebih dikenal sebagai faktor risiko diabetes, resistensi insulin juga berperan memicu berbagai masalah metabolik pada individu dengan obesitas.

Yunir menambahkan bahwa penumpukan sel lemak di rongga perut menciptakan mediator inflamasi yang terus bergerak di dalam tubuh. Kondisi ini menjadi semakin berisiko seiring bertambahnya usia, terutama saat memasuki rentang 50-60 tahun, di mana komplikasi antara kegemukan dan diabetes sering kali muncul secara bersamaan.

Pentingnya Pemeriksaan Komposisi Tubuh

Lebih lanjut, Yunir menekankan bahwa berat badan yang tinggi tidak selalu mencerminkan massa otot yang besar. Kenaikan berat badan bisa jadi didominasi oleh lemak, sehingga diperlukan pemeriksaan komposisi tubuh yang lebih spesifik.

“Jangan-jangan otot kita kurang, karena berat badannya tinggi itu bukan karena komponen ototnya tapi karena lemaknya. Dengan mengetahui komposisi tubuh, kita bisa mengatur treatment yang lebih tepat,” jelasnya.

Indikator Lingkar Pinggang

Berdasarkan Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa dari Kementerian Kesehatan, lingkar pinggang merupakan indikator utama untuk mengukur lemak perut dan penanda risiko penyakit kardiometabolik. Berikut adalah batas aman lingkar pinggang berdasarkan konsensus Asia Pasifik:






Kategori Batas Maksimal Lingkar Pinggang
Laki-laki 90 sentimeter
Perempuan 80 sentimeter

Sebagai langkah preventif, Yunir mengimbau masyarakat untuk membiasakan deteksi dini sejak usia muda. Hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan perubahan postur tubuh serta mengukur berat badan dan lingkar perut secara berkala.

Upaya deteksi dini tersebut harus dibarengi dengan perubahan pola makan dan gaya hidup sehat guna menekan risiko penumpukan lemak berlebih.

“Kalau perutnya rata atau maju, kita biasakan mencari indikator-indikator ini,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *