
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mendorong pengelolaan sampah secara terpadu melalui integrasi Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) di tingkat hulu dengan teknologi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di sisi hilir. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung terwujudnya kawasan perkotaan yang cerdas dan berkelanjutan.
Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA mengatakan, pengelolaan sampah merupakan salah satu tantangan utama dalam pembangunan perkotaan sekaligus bagian dari agenda pengembangan Smart City. Hal itu disampaikan Safrizal dalam Waste to Energy Forum: Enhancing National Efforts through Regional Governance and Yield Innovation yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Forum tersebut menjadi bagian dari rangkaian IISMEX 2026 yang mempertemukan pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, serta mitra internasional.
Menurut Safrizal, konsep kota cerdas tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai penerapan teknologi digital. Lebih dari itu, pemerintah daerah harus mampu memanfaatkan teknologi dan inovasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Smart City bukan sekadar digitalisasi, tetapi bagaimana teknologi dan inovasi digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujar Safrizal.
Ia menilai penanganan sampah perlu dilakukan secara menyeluruh sejak dari sumber hingga tahap akhir. Di sisi hulu, Gerakan Indonesia ASRI diarahkan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam mengurangi sampah, menggunakan kembali barang, melakukan daur ulang, serta memilah sampah sejak dari sumbernya.
Sementara di sisi hilir, sampah yang sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali dapat diolah menggunakan teknologi, termasuk PSEL. Dengan pendekatan tersebut, jumlah sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) diharapkan dapat ditekan.
“Dari ASRI di hulu menuju PSEL dan teknologi pengolahan di hilir, semuanya harus menjadi satu ekosistem,” tegasnya.
Safrizal menekankan bahwa PSEL bukanlah solusi yang menggantikan seluruh sistem pengelolaan sampah. Teknologi tersebut harus ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem persampahan yang terintegrasi. Menurut dia, penerapan PSEL membutuhkan kesiapan pemerintah daerah, mulai dari aspek kelembagaan, regulasi, ketersediaan lahan, infrastruktur, hingga kepastian pasokan sampah yang sesuai dengan kebutuhan teknologi pengolahan.
“Persiapannya harus dilakukan sejak sekarang. Penyiapan tidak cukup hanya satu tahun,” jelasnya.
Dalam penerapannya, Safrizal juga mendorong keterlibatan sektor swasta, khususnya dalam penyediaan teknologi dan investasi. Sementara itu, pemerintah daerah perlu memastikan kesiapan tata kelola agar proyek dapat berjalan secara berkelanjutan.
Sebagai National Representative Indonesia dalam ASEAN Smart Cities Network (ASCN), Safrizal turut mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara kota-kota di Indonesia dengan kota anggota ASCN lainnya. Pertukaran tersebut diharapkan dapat memperluas referensi mengenai pemanfaatan teknologi dalam menyelesaikan persoalan persampahan perkotaan.
Kemendagri selanjutnya mendorong agar hasil forum dapat diterjemahkan ke dalam langkah konkret di daerah. Upaya tersebut antara lain melalui penguatan kebijakan, sinkronisasi perencanaan dan penganggaran, peningkatan kapasitas aparatur, pembangunan infrastruktur, serta pengembangan peluang investasi dan kerja sama.
Peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pengelolaan perkotaan dengan pendekatan kota cerdas menjadi salah satu aspek yang dinilai penting untuk memastikan berbagai inovasi dapat diterapkan secara efektif.
Pada akhirnya, Kemendagri menilai pembangunan kota cerdas tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi modern. Pemerintah daerah juga perlu memastikan teknologi tersebut terintegrasi dengan kebijakan, tata kelola, serta kolaborasi berbagai pihak agar memberikan dampak nyata.
“Yang ingin kita bangun bukan sekadar kota yang memiliki teknologi canggih, tetapi kota yang mampu menggunakan teknologi, kebijakan, dan kolaborasi untuk memberikan manfaat nyata kepada masyarakat,” pungkas Safrizal. (E-3)
