Membangun Budaya Siaga dan Tangguh: Transformasi dari Konsep Tahan Gempa ke Bangunan Aman Gempa
Pegawai dan wisatawan asing melihat gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026)(ANTARA/Gecio Viana)

GURU Besar Rekayasa Kegempaan/Kebencanaan Universitas Islam Indonesia Prof. Ir. H. Sarwidi, MSCE., Ph.D., IP-U., ASEAN Eng., APEC Eng., mengemukakan gempa tektonik yang mengguncang wilayah NTT pada hari Sabtu mengingatkan kembali bahwa Indonesia berada di kawasan cincin api (ring of fire) dengan aktivitas seismik yang tinggi. “Peristiwa ini harus dilihat sebagai momentum krusial untuk mengevaluasi kembali pemahaman kita tentang bangunan tahan gempa,” katanya di kampus UII Jalan Kaliurang KM 14, Minggu.

Inovator BARRATAGA (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa) ini mengemukakan selama ini, untuk bangunan gedung teknis, kita cenderung hanya berfokus pada elemen struktur yakni komponen utama penahan beban keseluruhan bangunan seperti fondasi, kolom, balok, dan lantai. Namun, ujarnya sering melupakan elemen non-struktur, yakni bagian yang harus menahan dirinya sendiri tetapi bukan bagian dari penahan gaya utama, seperti tembok pengisi, lisplank, plafon, penutup atap, hingga elemen pelengkap seperti baliho.

Pada gempa NTT ini, ujarnya, kita juga melihat fenomena memprihatinkan: banyak bangunan yang elemen strukturnya tetap utuh dan tidak roboh, namun menyebabkan korban. Hal ini terjadi karena elemen non-struktur mengalami kegagalan. 

“Keruntuhan tembok, jatuhnya plafon dan penutup atap, atau robohnya bagian non-struktural lainnya terbukti sangat membahayakan keamanan penghuni, meskipun kerangka bangunan utamanya masih berdiri cukup kokoh, tahan gempa,” tegasnya.

Prof. Sarwidi kemudian menyerukan percepatan pergeseran paradigma dari sekadar “bangunan tahan gempa” menjadi “bangunan aman gempa.” Konsep ini menuntut agar pertimbangan pokok dalam konstruksi tidak lagi hanya berfokus pada kekuatan struktur, tetapi juga pada pengamanan elemen non-struktur.

Langkah strategis yang harus kita tempuh:

  1. Integrasi Keamanan Menyeluruh: Memastikan bahwa tidak hanya struktur utama yang diperkuat, tetapi elemen non-struktur juga terpasang dengan sambungan yang mampu bertahan dari guncangan.
  2. Penerapan Konstruksi Aman Gempa: Membangun atau memperkuat fasilitas dengan memperhatikan detail teknis pada pengisi (tembok) dan elemen arsitektural lainnya agar tidak runtuh dan mencederai penghuni saat terjadi gempa.
  3. Penguatan Kapasitas Komunitas: Meningkatkan edukasi mitigasi agar masyarakat memahami bahaya tersembunyi dari elemen non-struktur.

Dikatakan, keselamatan adalah hasil dari perencanaan dan pelaksanaan yang komprehensif. Mari kita jadikan musibah ini sebagai pelajaran untuk memperketat standar keamanan, baik pada elemen struktur maupun non-struktur, demi meminimalisir risiko jatuhnya korban dan kerugian harta-benda di masa depan. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *