Lemak Perut Bisa Picu Diabetes hingga Penyakit Jantung, Ini Alasan yang Perlu Diwaspadai
Ilustrasi(Dok Magnific)

PENUMPUKAN lemak di dalam rongga perut ternyata tidak hanya memengaruhi bentuk tubuh. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit metabolik, seperti diabetes, gangguan kolesterol, hipertensi, hingga penyakit jantung.

Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD menjelaskan, lemak yang berada di rongga perut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan lemak yang tersimpan di bagian tubuh lainnya. Lemak tersebut berkaitan erat dengan berbagai proses metabolisme di dalam tubuh.

“Lemak di rongga perut itu lebih jahat dari lemak di tempat lain. Karena dia bukan hanya lemak ngumpul terus beratnya jadi tinggi, tapi dia mengandung banyak hormon lain,” kata Yunir dalam peluncuran Kampanye Edukasi mengenai Obesitas #BeraniBicaraBerat di Jakarta, Jumat (14/8).

Menurut Yunir, salah satu gangguan yang sering berkaitan dengan obesitas adalah resistensi insulin. Kondisi ini selama ini dikenal sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko diabetes. Namun, dampaknya tidak berhenti di sana karena resistensi insulin juga dapat berhubungan dengan berbagai gangguan metabolik lainnya pada orang yang mengalami obesitas.

Ia menerangkan bahwa semakin banyak sel lemak menumpuk, khususnya di area rongga perut, semakin besar pula risiko seseorang mengalami diabetes, kadar kolesterol yang terganggu, tekanan darah tinggi, serta penyakit jantung.

“Kalau sudah masuk usia 50-60 tahun, sudah muncul diabetes, tambah lagi dua, ada diabetes, ada kegemukan. Jadi ada mediator inflamasi yang terus bergerak di dalam tubuh kita,” ujarnya.

Berat Badan Tinggi Belum Tentu Menunjukkan Banyak Massa Otot

Yunir juga mengingatkan bahwa angka berat badan yang tinggi tidak otomatis menunjukkan seseorang memiliki massa otot dalam jumlah besar. Kenaikan berat badan bisa saja lebih banyak disebabkan oleh penumpukan lemak tubuh.

Karena itu, pemeriksaan komposisi tubuh dinilai penting untuk mengetahui secara lebih detail perbandingan antara massa lemak dan massa otot. Hasil pemeriksaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan penanganan yang lebih sesuai.

“Jangan-jangan otot kita kurang, karena berat badannya tinggi itu bukan karena komponen ototnya tapi karena lemaknya. Jadi artinya nanti kita bisa mengatur treatment-nya yang lebih tepat,” katanya.

Lingkar Perut Jadi Salah Satu Indikator Risiko

Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa Kementerian Kesehatan menempatkan lingkar pinggang sebagai salah satu indikator untuk mengetahui penumpukan lemak perut sekaligus menilai risiko penyakit kardiometabolik.

Berdasarkan konsensus Asia Pasifik, seseorang masuk kategori obesitas berdasarkan ukuran lingkar pinggang apabila ukurannya lebih dari 90 sentimeter pada laki-laki dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan.

Yunir pun mendorong masyarakat untuk melakukan deteksi dini sejak usia muda. Pemantauan dapat dilakukan dengan memperhatikan perubahan bentuk tubuh, mengukur berat badan, serta memeriksa lingkar perut secara berkala.

Selain pemeriksaan, upaya mencegah penumpukan lemak berlebih juga perlu dibarengi dengan perbaikan pola makan dan gaya hidup.

“Kalau perutnya rata atau maju, kita biasakan mencari indikator-indikator ini,” kata Yunir. (Ant/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *