
FENOMENA El Nino yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat deteksi dini, patroli pencegahan, hingga respons cepat untuk mencegah api meluas.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kemenhut Dwi Januanto mengatakan, peningkatan luas karhutla tidak terlepas dari kondisi iklim yang membuat curah hujan menurun dan kelembapan udara lebih rendah. Kondisi itu menyebabkan vegetasi dan lahan gambut lebih cepat mengering sehingga lebih mudah terbakar.
“Peningkatan luas karhutla tidak lepas dari faktor yang memengaruhi kondisi tersebut yaitu adanya fenomena iklim yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Dwi saat dihubungi, Sabtu (8/8).
Menurut Dwi, terdapat indikasi fenomena El Nino yang diperkirakan menjadi bagian dari siklus beberapa tahunan muncul lebih awal dengan intensitas kuat. Kondisi tersebut menyebabkan curah hujan menurun di banyak wilayah, kelembapan udara lebih rendah, serta vegetasi dan lahan gambut lebih cepat mengering.
“Hal ini menyebabkan vegetasi dan lahan gambut lebih cepat mengering sehingga lebih mudah terbakar dan api lebih cepat menyebar,” katanya.
STRATEGI PENCEGAHAN
Menghadapi kondisi tersebut, Kemenhut memperkuat strategi pencegahan dan penanganan sedini mungkin. Langkah tersebut mencakup penguatan deteksi dini dan patroli pencegahan karhutla serta mempercepat respons pemadaman oleh Manggala Agni bersama satuan tugas terpadu di daerah.
Dwi mengatakan, kesiapsiagaan juga diperkuat di daerah rawan. Saat ini tujuh provinsi telah menetapkan status siaga darurat karhutla, yakni Riau, Kalimantan Barat, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
“Penetapan status ini memungkinkan untuk mengoptimalkan pengerahan sumber daya dan koordinasi lintas sektor dapat dilakukan lebih cepat,” ujar Dwi.
Kemenhut juga mendorong dan aktif dalam Desk Penanganan Karhutla yang dikoordinasikan Kemenko Polkam. Selain itu, supervisi oleh pejabat eselon I Kemenhut kepada para pihak dan pemerintah daerah di wilayah rawan karhutla terus dilakukan.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB dan BMKG juga dioptimalkan sebagai salah satu upaya mitigasi di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi sesuai kebutuhan dan kondisi cuaca.
Selain itu, Kemenhut juga memperketat pengawasan terhadap pemegang izin. Dwi mengatakan setiap pemegang izin harus memastikan kesiapan personel, sarana dan prasarana pemadaman, patroli pencegahan, hingga pelaporan.
“Memastikan kesiapan seluruh pemegang izin. Kemenhut terus melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap mitra korporasi agar memenuhi kewajiban pencegahan karhutla,” kata Dwi.
KOORDINASI
Pengendalian karhutla dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, mitra korporasi, hingga masyarakat. Kemenhut juga mengaktifkan posko pengendalian karhutla di sejumlah daerah rawan untuk memperkuat pemantauan dan penanganan.
“Karhutla tidak dapat ditangani hanya oleh satu pihak saja, kolaborasi merupakan salah satu kunci dalam upaya pengendalian kebakaran hutan,” tegasnya.
Di tingkat masyarakat, Kemenhut terus melakukan penyadartahuan melalui sosialisasi, penyuluhan, kampanye, serta media daring dan media sosial. Pemerintah juga memperkuat Masyarakat Peduli Api (MPA) agar mampu berperan dalam pencegahan, deteksi dini, dan penanganan awal kebakaran di tingkat desa.
Masyarakat juga didorong menggunakan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar dengan mengolah sisa bukaan lahan berupa potongan kayu dan bahan organik menjadi produk bernilai ekonomi seperti arang, cuka kayu, dan kompos.
DISIAGAKAN
Sementara itu, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kemenhut Thomas Nifinluri mengatakan kesiapan Manggala Agni terus diperkuat menjelang puncak kemarau Agustus 2026.
Secara nasional, terdapat 2.515 personel Manggala Agni yang tersebar di 34 Daops dan didukung 46 pondok kerja di wilayah rawan karhutla.
“Kesiapan Manggala Agni menghadapi puncak kemarau Agustus 2026 terus diperkuat, terutama saat ini mereka dalam kondisi siaga,” ujar Thomas.
Dari sisi operasional, personel dan sarana pemadaman telah disiagakan, termasuk pemeliharaan peralatan, pompa pemadam, patroli, groundcheck, serta simulasi mobilisasi.
“Operasi pemadaman juga sudah berjalan secara terpadu bersama TNI, Polri, Pemda, Masyarakat Peduli Api (MPA), Regu Pemadam Kebakaran Mitra Korporasi dan pihak terkait lainnya di sejumlah provinsi rawan,” katanya.
Thomas mengatakan kesiapsiagaan posko diperkuat melalui peningkatan patroli pencegahan, pemantauan hotspot, dan respons terhadap laporan karhutla. Posko terpadu di daerah diaktifkan seiring penetapan status siaga darurat.
Hingga 8 Agustus 2026, Manggala Agni bersama para pihak terkait telah melaksanakan 3.057 operasi penanganan kejadian karhutla di berbagai wilayah Indonesia. “Secara umum, kinerja Manggala Agni menunjukkan tren yang efektif dalam deteksi dini dan respons pemadaman, melalui sistem monitoring hotspot, groundcheck, patroli, dan respons cepat di lapangan,” ujar Thomas.
Namun, petugas masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan, seperti keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran, terutama di wilayah terpencil dan lahan gambut, topografi yang sulit, keterbatasan sumber air, serta cuaca ekstrem.
KAWASAN KONSERVASI
Ancaman kebakaran juga terjadi di kawasan konservasi. Salah satu perhatian Kemenhut saat ini tertuju pada karhutla di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
Berdasarkan data 9 Agustus 2026, luas area terbakar teridentifikasi sekitar 520 hektare. Penanganan dilakukan melalui operasi terpadu yang melibatkan Manggala Agni, Balai TN Bromo Tengger Semeru, BPBD, BNPB, Masyarakat Peduli Api, TNI, dan Polri.
Untuk lokasi yang sulit dijangkau dengan topografi berat, operasi pemadaman didukung dua unit helikopter water bombing serta helikopter drone sprayer. OMC juga dipertimbangkan dengan terus memantau kondisi meteorologi.
Pada 9 Agustus 2026, kebakaran di Taman Nasional Gunung Merapi dengan luas 0,2 hektare juga berhasil dipadamkan oleh petugas lapangan secara terpadu. “Kondisi ini menunjukkan pentingnya mencegah kebakaran terutama di kawasan konservasi dengan segala keanekaragaman hayati di dalamnya,” kata Thomas.
Ia menegaskan deteksi dini dan respons cepat harus terus diperkuat untuk mencegah kebakaran meluas. “Prinsip kami kebakaran harus ditangani sedini mungkin agar tidak meluas dan mengancam ekosistem maupun objek vital di dalam kawasan Taman Nasional,” pungkasnya. (Ata/H-1)
