
ESKALASI kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, cenderung meningkat. Berbagai peristiwanya dilaporkan terjadi di berbagai wilayah.
Manager Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menuturkan dampak kemarau ekstrem kurun sebulan terakhir mengakibatkan terjadinya karhutla di berbagai wilayah. Penyebabnya mayoritas akibat faktor cuaca menyusul peningkatan suhu udara.
“Data yang dilaporkan ke BPBD, sejak sebulan terakhir terjadi 23 kali kejadian karhutla di berbagai wilayah di Kabupaten Sukabumi,” kata Daeng, Senin (10/8).
Teranyar, kebakaran lahan terjadi di Kampung Lembursawah RT 14/03
Desa Cibuntu Kecamatan Simpenan pada Minggu (9/8) sekitar pukul 18.00 WIB. Api meludeskan lahan kosong seluas lebih kurang 5 ribu meter persegi milik warga setempat.
Hasil keterangan sementara, kebakaran diduga disengaja yang dilakukan orang tak bertanggung jawab. Akibat kejadian itu, puluhan rumah warga dalam kondisi terancam.
“Lokasi lahan yang terbakar dengan permukiman warga hanya berjarak sekitar 5 meter. Ada 30 rumah sempat terancam. Namun petugas gabungan dibantu masyarakat setempat berhasil memadamkan api,” tuturnya.
Selain karhutla, kemarau panjang juga mengakibatkan peningkatan eskalasi kekeringan, terutama krisis air bersih. Berdasarkan laporan yang masuk ke BPBD, terjadi 12 kali kasus kekeringan.
“Kami telah menyalurkan bantuan air bersih bagi warga yang membutuhkan bekerja sama dengan berbagai instansi,” ujar Daeng.
Secara umum, kurun sebulan terjadi 38 kali bencana. Selain karhutla dan kekeringan, terjadi pula bencana hidrometeorologi berupa cuaca ekstrem 1 kali, tanah longsor 1 kali, dan gempa 1 kali. (BB/E-4)
