Bulan Menjauh 3,8 Sentimeter per Tahun, Ini Dampaknya bagi Bumi
Ilustrasi: Fenomena bulan purnama jagung terlihat di langit Kota Depok, Jawa Barat.(ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

BULAN ternyata perlahan terus menjauh dari Bumi dengan kecepatan rata-rata sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Pergerakan ini terjadi akibat interaksi gravitasi dan gaya pasang surut antara Bumi dan Bulan. 

Meski perubahan jaraknya sangat kecil, proses tersebut secara perlahan memengaruhi rotasi Bumi dan membuat durasi satu hari bertambah panjang. 

Fenomena ini telah dapat diukur secara presisi menggunakan laser yang dipantulkan dari cermin yang ditempatkan di permukaan Bulan oleh misi antariksa dan astronaut.

Mengapa Bulan Menjauh?

Menurut laporan Space.com, Bulan terus menjauh dari Bumi akibat gaya pasang surut. Gravitasi Bulan menarik lautan Bumi dan membentuk tonjolan pasang yang sedikit bergeser di depan posisi Bulan akibat rotasi Bumi. 

Tonjolan ini memberikan tarikan gravitasi tambahan yang membuat Bulan memperoleh momentum dan bergerak ke orbit lebih jauh, sementara sebagian momentum rotasi Bumi berpindah ke orbit Bulan sehingga rotasi Bumi perlahan melambat.

Jarak Bulan Terus Bertambah

Jarak rata-rata Bulan dari Bumi saat ini sekitar 385.000 kilometer, tetapi nilainya berubah sepanjang orbit karena lintasannya tidak berbentuk lingkaran sempurna. 

Meski begitu, terdapat tren jangka panjang bahwa Bulan menjauh sekitar 3,8 sentimeter per tahun, yang dapat diukur secara akurat menggunakan laser yang dipantulkan dari reflektor di permukaan Bulan untuk menghitung waktu tempuh cahaya pulang-pergi ke Bumi.

Durasi Hari di Bumi Perlahan Bertambah Panjang

Ketika Bulan memperoleh momentum orbital, Bumi kehilangan sebagian momentum rotasinya. Akibatnya, kecepatan rotasi Bumi sedikit menurun dan durasi satu hari bertambah panjang.

Efeknya sangat kecil sehingga tidak dapat dirasakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. 

Menurut Space.com, perubahan jarak sekitar 3,8 sentimeter per tahun jika dibandingkan dengan jarak Bumi-Bulan hanya sekitar 0,00000001 persen per tahun. 

Karena itu, manusia masih akan mengalami hari dengan durasi sekitar 24 jam dan menikmati pasang surut serta gerhana selama jutaan tahun ke depan.

Pergerakan Bulan juga membantu menjelaskan mengapa panjang hari di Bumi berubah sepanjang sejarah. 

Ketika Bulan baru terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, posisinya diperkirakan jauh lebih dekat dengan Bumi.

Bukti dari fosil cangkang kerang menunjukkan bahwa sekitar 70 juta tahun lalu, ketika dinosaurus masih hidup, satu hari di Bumi berlangsung sekitar 23,5 jam. 

Temuan tersebut sejalan dengan prediksi astronomi mengenai perlambatan rotasi Bumi akibat interaksi dengan Bulan.

Apakah Bulan Akan Meninggalkan Bumi?

Meski terus menjauh, Bulan tidak akan segera lepas dari gravitasi Bumi.  Jika proses ini berlangsung hingga puluhan miliar tahun, rotasi Bumi secara teori dapat melambat hingga mencapai kondisi tidally locked, ketika periode rotasi Bumi sama dengan periode orbit Bulan. 

Namun, skenario tersebut kemungkinan tidak tercapai karena dalam sekitar satu miliar tahun Matahari diperkirakan semakin terang dan dapat memengaruhi lautan serta gaya pasang surut, sebelum akhirnya beberapa miliar tahun kemudian berkembang menjadi raksasa merah yang kemungkinan mengakhiri keberadaan Bumi dan Bulan.

Bulan yang terus menjauh merupakan proses alami yang sangat lambat.  Dampaknya adalah perlambatan rotasi Bumi dan perubahan panjang hari, sudah terjadi tetapi belum terasa dalam kehidupan sehari-hari. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem Bumi-Bulan terus berubah akibat interaksi gravitasi selama miliaran tahun.

(Space/P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *