LPPM UNJ Dorong Desa Bulak Kembangkan Festival Budaya Perkuat Kemandirian Desa Wisata
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) mendorong masyarakat Desa Bulak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mengembangkan potensi budaya lokal menjadi bagian dari penguatan desa wisata. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan pendampingan pengabdian masyarakat yang didukung oleh para pimpinan dilingkungan UNJ sebagai narasumber kegiatan, baik Rektor, Wakil Rektor, Sekretaris Universitas, Kepala Badan Pengelola Usaha, dan Ketua Satuan Penjaminan Mutu.

Salah satu agenda utama kegiatan tersebut adalah Focus Group Discussion (FGD) Perancangan dan Penyiapan Festival Budaya Buyut Banjar yang digelar pada Sabtu (8/8/26). FGD membahas berbagai persiapan festival, mulai dari pembentukan panitia, penyusunan konsep acara, pembagian tugas, hingga strategi penggalangan dana.

Rektor UNJ, Prof. Komarudin yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan festival budaya diarahkan untuk memperkuat pendampingan UNJ kepada masyarakat Desa Bulak agar mampu mengembangkan desa wisata secara mandiri.

Menurut dia, tradisi dan kesenian yang berkembang di tengah masyarakat memiliki potensi untuk menjadi daya tarik wisata sekaligus memperkuat identitas Desa Bulak.

“Kita harus mengarahkan festival budaya Banjar ini menjadi festival seperti di Jember atau Banyuwangi sebagai kegiatan kirab budaya,” kata Prof. Komarudin dalam keterangannya hari ini.

Ia juga mengapresiasi Tari Manuk Banjar yang diperagakan anak-anak Desa Bulak. Tarian tersebut merupakan hasil pengembangan dan penciptaan bersama dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNJ dan diproyeksikan menjadi salah satu kesenian dalam Festival Budaya Buyut Banjar.

Prof. Komarudin berharap Tari Manuk Banjar dapat berkembang menjadi salah satu ikon budaya Desa Bulak. Ia juga mendorong tradisi Mermule yang selama ini dilaksanakan masyarakat dapat dikembangkan menjadi festival budaya yang memiliki daya tarik lebih luas.

Pendamping

Sementara itu Ketua LPPM UNJ, Prof. Iwan Sugihartono menegaskan kehadiran UNJ di Desa Bulak bukan untuk mengambil alih peran masyarakat. UNJ, kata dia, bertindak sebagai pendamping agar masyarakat mampu mengelola potensi desa secara mandiri.

“Peranan UNJ nantinya menjadi pendamping yang pada akhirnya Desa Bulak menjadi desa mandiri dan mampu menyelenggarakan festival budaya yang dapat dikenal di dunia luar,” ujar Prof. Iwan.

Ia menekankan masyarakat harus menjadi pelaku utama dalam penyelenggaraan Festival Budaya Buyut Banjar. UNJ membantu memperkuat konsep, memberikan pendampingan, serta mengembangkan potensi kegiatan agar memiliki nilai budaya, sosial, dan ekonomi.

“Dengan ada atau tidak adanya UNJ, orang Bulak harus bisa menyelenggarakan itu. Dan UNJ akan terus mendukung desa wisata ini sampai mandiri,” katanya.

Camat Jatibarang Mardono mengapresiasi pendampingan yang dilakukan UNJ. Menurut dia, pengembangan festival dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi dan identitas budaya Desa Bulak yang mulai kurang mendapat perhatian.

“Pemerintah Kecamatan Jatibarang terus mendukung bersama masyarakat untuk menyukseskan adat istiadat agar berjalan lebih meriah lagi melalui pendampingan UNJ,” ujarnya.

Tradisi Mermule

Sementara itu, Kepala Desa Bulak Meidin mengatakan tradisi Mermule merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat. Tradisi tersebut diisi dengan membawa tumpeng dan makanan, doa bersama, tahlil, marhaban, serta makan bersama sebagai wujud syukur atas musim tanam.

“Ini adalah kegiatan penting orang Banjar yang diadakan oleh orang Bulak dan bukan tanggung jawab satu atau dua orang saja. Kita harus bekerja sama untuk menyukseskannya,” kata Meidin.

Tradisi tersebut selanjutnya diarahkan untuk dikembangkan menjadi kegiatan budaya yang lebih besar, termasuk pawai ogoh-ogoh dan berbagai kreativitas masyarakat.

FGD diikuti perangkat desa, PKK, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Karang Taruna, RT, RW, serta masyarakat. Diskusi dipandu Kepala Desa Bulak bersama Ketua Pokdarwis Desa Bulak Asep Saifudin.

Melalui FGD tersebut, masyarakat bersama UNJ menyusun rancangan Festival Budaya Buyut Banjar yang diharapkan dapat menjadi kegiatan budaya berkelanjutan sekaligus memperkuat kemandirian Desa Bulak sebagai desa wisata.(H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *