
KERETAKAN atau putusnya hubungan (estrangement) antara anak dan orangtua merupakan dinamika keluarga yang sangat rumit dan emosional. Ketika seorang anak memutuskan untuk membatasi atau menghentikan kontak dengan orangtua mereka, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pihak yang berselisih, tetapi juga kerap merambat pada hubungan antar saudara kandung.
Perbedaan pandangan, batasan emosional, serta loyalitas yang terbelah sering kali memicu ketegangan di antara kakak dan adik. Meski demikian, para ahli psikologi dan hubungan keluarga menegaskan ikatan antarsaudara tetap bisa dijaga agar tidak terputus di tengah konflik keluarga yang terjadi.
Berikut adalah beberapa langkah penting yang disarankan para pakar untuk mempertahankan ikatan persaudaraan saat terjadi keretakan dengan orangtua:
1. Sepakati Batasan untuk Tidak Menjadikan Saudara sebagai Perantara
Salah satu pemicu utama rusaknya hubungan persaudaraan adalah ketika salah satu pihak dijadikan “jembatan” atau perantara pesan untuk menyampaikan informasi kepada orangtua. Penting bagi kakak dan adik untuk menetapkan batas yang jelas sejak awal agar tidak saling menekan atau memintas keputusan masing-masing terkait hubungan dengan orangtua.
2. Hormati Keputusan dan Pengalaman Pribadi Masing-Masing
Setiap anak dalam satu keluarga dapat memiliki pengalaman hidup dan persepsi yang sangat berbeda terhadap orangtua mereka. Menghormati keputusan ikatan emosional saudara, baik mereka memilih untuk tetap berkontak maupun memutus hubungan dengan orangtua, menjadi kunci utama untuk menghindari perselisihan.
3. Fokus Membangun Hubungan yang Mandiri
Agar ikatan persaudaraan tetap harmonis, hubungan antar saudara sebaiknya tidak terus-menerus berpusat pada topik konflik orangtua. Luangkan waktu untuk berinteraksi di luar urusan dinamika keluarga, seperti berbagi hobi, mengenang kenangan masa kecil yang menyenangkan, atau saling mendukung dalam kehidupan pribadi dan profesional masing-masing.
4. Berkomunikasi Secara Jujur dan Empatis
Komunikasi yang terbuka tanpa rasa menghakimi sangat dibutuhkan. Jika merasa tidak nyaman membicarakan topik keluarga tertentu, sampaikan hal tersebut secara jujur dan bersahabat. Sikap saling mendengarkan tanpa memaksakan sudut pandang akan menciptakan ruang aman bagi kedua belah pihak.
Menjaga hubungan saudara di tengah konflik keluarga memang membutuhkan usaha ekstra dan kedewasaan emosional. Dengan menerapkan batasan yang sehat serta saling menghormati pilihan hidup masing-masing, ikatan persaudaraan dapat tetap tumbuh kuat dan menjadi sumber dukungan yang berharga. (Parents/Z-2)
