Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen di Kuartal II 2026, ALFI Soroti Ketahanan Logistik
Ilustrasi(MI/HO)

BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan perekonomian Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II/2026. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 5,12%. Dengan capaian tersebut, secara akumulatif ekonomi nasional tumbuh 5,45% sepanjang semester I/2026.

Ketua Dewan Pembina DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) sekaligus Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi, menilai pencapaian ini sangat positif mengingat kuartal II merupakan periode yang secara struktural cukup berat.

Menurutnya, ekonomi Indonesia berhasil bertahan di tengah tekanan hilangnya efek musiman Ramadan dan Idul Fitri serta dampak gejolak geopolitik Iran-AS di Timur Tengah yang mulai menekan permintaan ekspor.

“Pertumbuhan kuartal II yang mencapai 5,29% menjadi indikasi bahwa fondasi permintaan domestik dan ketahanan rantai pasok kita jauh lebih solid daripada yang diperkirakan pasar,” ujar Yukki.

MI/HO—Ketua Dewan Pembina DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) sekaligus Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi

Struktur Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II/2026

Konsumsi masyarakat masih menjadi motor utama pertumbuhan dengan kontribusi mencapai 53,32% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor mencatatkan rapor hijau dengan industri pengolahan sebagai penyumbang andil terbesar.








Sektor Lapangan Usaha Andil Pertumbuhan (Poin Persentase)
Industri Pengolahan 0,90
Perdagangan 0,83
Konstruksi 0,62
Informasi dan Komunikasi 0,48

Tantangan Semester II/2026

Meski tumbuh solid, Yukki mengingatkan adanya sejumlah “pekerjaan rumah” pada paruh kedua tahun ini. Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan pada Mei dan Juni 2026 setelah 72 bulan berturut-turut surplus. Selain itu, tekanan nilai tukar Rupiah turut memengaruhi struktur biaya pelaku usaha.

Ia menekankan pentingnya akselerasi industrialisasi agar pertumbuhan tidak hanya bergantung pada konsumsi, tetapi juga pada produktivitas dan investasi bernilai tambah. Hal ini krusial untuk memperkuat transformasi struktural menuju Indonesia Emas 2045.

Optimisme Sektor Logistik dan Manufaktur

Memasuki kuartal III/2026, terdapat sinyal pemulihan pada sektor manufaktur. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia melonjak ke level 50,2 pada Juli 2026, kembali ke zona ekspansi setelah sebelumnya tertekan di angka 46,9 pada Juni.






Indikator Manufaktur (Juli 2026) Posisi Status
PMI Manufaktur 50,2 Ekspansi
Indeks Output 50,4 Meningkat

“PMI yang kembali ekspansif adalah leading indicator. Kenaikan volume produksi diharapkan berdampak pada peningkatan volume kargo dalam empat hingga delapan pekan ke depan,” tegas Yukki.

Prioritas Kebijakan Logistik

Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahunan di kisaran 5,4% – 6%, Yukki mendorong tiga prioritas kebijakan utama pada semester II/2026:

  • Digitalisasi NLE: Mempercepat implementasi National Logistics Ecosystem untuk efisiensi biaya.
  • Diversifikasi Pasar: Memanfaatkan perjanjian dagang aktif untuk memperluas jangkauan ekspor.
  • Konektivitas Infrastruktur: Optimalisasi Pelabuhan Patimban dan simpul logistik di luar Jawa.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa pertumbuhan yang berkualitas memerlukan katalis positif dari belanja pemerintah yang tepat sasaran, percepatan investasi produktif, serta penjagaan daya beli domestik secara konsisten. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *