Tak Hanya Ibu, Kebiasaan Makan Fast Food pada Ayah Pengaruhi Kesehatan Bayi
ilustrasi(freepik)

PERHATIAN terhadap kesehatan janin kini tidak lagi bertumpu hanya pada calon ibu. Sebuah studi terbaru dari peneliti Brasil mengungkapkan bahwa pola makan calon ayah sebelum kehamilan juga memegang peranan krusial dalam menentukan kesehatan dan bobot lahir bayi.

Peneliti studi tersebut, Daniela Sartorelli, menjelaskan bahwa perhatian publik selama ini cenderung terfokus pada nutrisi ibu hamil, sementara kontribusi nutrisi ayah kerap terabaikan.

“Nutrisi dan kesehatan ibu sebelum, selama, dan setelah kehamilan selalu menjadi perhatian utama. Namun, masih sedikit yang membahas peran pola makan ayah. Penelitian kami menunjukkan bahwa pola makan ayah juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan bayi,” kata Daniela Sartorelli, Sabtu (1/8).

Hasil penelitian mencatat bahwa calon ayah yang rutin mengonsumsi makanan cepat saji atau ultra-processed food cenderung memiliki bayi yang lahir dengan berat badan lebih berat. Para peneliti menduga makanan olahan tersebut memicu peradangan yang merusak kualitas sperma sekaligus mengubah aktivitas genetik pada calon anak.

“Proses ini dikenal sebagai epigenetika. Aktivitas gen dapat ‘diaktifkan’ atau ‘dinonaktifkan’ bergantung pada kebiasaan makan sang ayah,” terang peneliti lainnya, Mariana Rinaldi Carvalho.

Peneliti secara spesifik menyoroti gen IGF-II, yaitu gen penentu pertumbuhan janin yang diwariskan secara khusus dari pihak ayah.

Menariknya, studi menunjukkan dampak berbeda antara konsumsi makanan ultra-proses oleh ayah dan ibu. Jika konsumsi pada ayah memicu berat lahir lebih tinggi, konsumsi makanan ultra-proses oleh ibu pada awal kehamilan (hingga usia 16 minggu) justru membuat bayi lahir dengan berat badan lebih rendah, tubuh lebih pendek, serta lingkar kepala lebih kecil akibat kondisi “miskin nutrisi”.

Makanan ultra-proses sendiri merupakan produk pangan olahan pabrik ber-zat aditif tinggi seperti pengawet, pemanis, pewarna, dan penguat rasa. Contohnya meliputi minuman bersoda, permen, adonan kue instan, produk daging olahan, hingga mi instan.

Para ahli memperingatkan bahwa bayi yang lahir dengan berat badan terlalu rendah maupun terlalu tinggi memiliki risiko komplikasi kesehatan yang serius, mulai dari tingginya risiko kematian bayi, keterlambatan perkembangan motorik seperti merangkak dan berjalan, hingga kerentanan mengidap penyakit tidak menular (PTM) saat dewasa seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan kanker.

Secara umum, paparan jangka panjang makanan ultra-proses pada orang dewasa juga telah terbukti meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, sindrom metabolik, obesitas, depresi, demensia, hingga kematian dini. (Ant/P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *